BPNB Teliti Nilai Tradisi Kumpul Kope Masyarakat Manggarai

berbagi di:
img-20190318-wa0000

Tim BPNB sedang berdiskusi dengan beberapa tokoh masyarakat. Foto: Gerasimos Satria/VN

 

Gerasimos Satria

Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali Bali (BPNB) melakukan penelitian tentang nilai kajian tadisi Kumpul Kope pada masyarakat Cancar di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

Kumpul Kope merupakan kesempatan berkumpul seluruh rumpun keluarga untuk memberikan sumbangan berupa materi seperti barang atau uang bagi keluarga yang akan melangsungkan acara pernikahan, kematian, sakit ataupun akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Tradisi kumpul kope itu sendiri ada di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai. Kumpul kope di Kampung Cancar cukup unik dibandingkan wilayah lain di  Manggarai karena tak hanya melibatkan keluarga namun seluruh masyarakat di Kampung Cancar bahkan para kenalan fi luar kampung.

Peneliti BPNB, I Putu Kamasan Sanjaya, Senin (18/3) mengatakan penelitian akan dilakukan di Kampung Cancar sejak 9- 20 Maret 2019. Tujuannya, untuk menggambarkan tradisi Kumpul Kope di Kampung Cancar dan mengangkat nilai-nilai hidup seperti gotong-royong, persatuan, dan kekeluargaan yang dimaknai melalui tradisi ini.

Menurutnya, kearifan lokal harus tetap terjaga terutama kaum mineal harus paham dengan tradisi ini dan bisa mempertahankan tradisi kumpul kope.

Warga Kampung Cancar, Siprianus A Dintal mengatajan tradisi kumpul Kope di Kampung Cancar dilakukan setiap tahun.

Tradisi Kumpul Kope untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dilakukan sebelum anak di Kampung Cancar Ujian Akhir Nasional (UAN) Sekolah Menengah Atas (SMA).

Minimal ada 10 orang yang melakukan kumpul kope setiap tahun. Setiap orang yang menghadiri tradisi kumpul kope wajib menyetorkan uang senilai Rp 100.000 dan beras sebanyak 10 kg.

Besaran barang yang dikumpulkan untuk acara kumpul kope tersebut merupakan kesepakatan seluruh masyarakat Kampung Cancar.

Siprianus mengatakan tradisi kumpul kope merupakan warisan nenek moyang orang Manggarai agar sesama saudara bisa terus saling membantu.

Ia mengaku besaran  barang dan uang berbeda-beda.

“Sejak ada perguruan tinggi di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Jumlah masyarakat yang melaksankan kumpul kope cukup tinggi. Sanksi lokal bagi warga kampung yang tidak
menyetor uang Rp 100 ribu selama tiga kali maka keluarga tersebut tidak boleh melakukukan tradisi kumpul kope,” tutur Siprianus.

Setelah melaksanakan tradisi kumpul kope tersebut kata dia, anak wajib merantau keluar dari kampung untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan uang hasil kumpul kope. Sehingga hampir setiap kepala leluarga (KK) di Kampung Cancar mampu menyelesaikan pendidikan Perguruan tinggi anak-anaknya.

“Kami lakukan tradisi kumpul kope hanya untuk meringkan beban biaya pendidikan perguruan tinggi yang cukup mahal. Dimana masyarakat Kampung Cancar secara bergotong royong mengumpulkan uang kepada Keluarga yang melaksanakan tradisi kumpul kope,” ujar Sprianus. (bev/ol)