BPR Christa Jaya Lapor Balik Istri Rafi

berbagi di:
foto-hal-07-metro-christa-110919

Kuasa hukum BPR Christa Jaya Samuel Haning dan Fransisco Bessi foto bersama Direktur BPR Christa Jaya Lanny Tadu dan Komisaris Utama BPR Christa Jaya Christofel Lianto seusai jumpa pers, Selasa (11/9). Foto: Kekson Salukh/VN

 

 

Kekson Salukh

Setelah istri Rahcmat alias Rafi, tersangka kasus dugaan tindak pidana penipuan dan penggelapan mobil, Sri Wahyuni melaporkan manager marketing Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Crista Jaya Wilson Liyanto dengan tuduhan melakukan pencurian dengan kekerasan, BPR Christa Jaya Kupang mengancam akan melapor balik Sri Wahyuni.

Kuasa Hukum BPR Crista Jaya Kupang Samuel Haning dan Fransisco Bessie, mengatakan hal itu, saat mengelar jumpa pers di salah satu restoran yang ada di kota Kupang, Selasa (10/9) siang.

Haning menilai, laporan istri Rafi, Sri Wahyuni tidak memiliki landasan hukum yang kuat alias akal-akalan untuk mengalihkan perhatian publik akan kasus yang dilakukan suaminya.

“Kami menilai laporan dia itu hanya akal-akalan untuk mengalihkan isu maupun perhatian publik akan kasus yang dilakukan suaminya, sehingga kami juga akan mengambil langkah hukum dengan melapor balik pelapor (Sri) karena melakukan pencemaran nama baik,” kata Samuel Haning.

Haning mengaku heran dengan laporan Sri dan pemanggilan pemeriksaan terhadap kliennya. Tindakan itu, dia nilai sebagai bentuk diskriminasi terhadap kliennya. Dalam kasus itu, Rafi sebagai peminjam uang di BPR Christa Jaya tidak mampu mengembalikan pinjaman, sehingga dia menyerahkan seluruh asetnya berupa rumah dan showroom beserta isinya kepada BPR Crista Jaya.

“Sejumlah aset yang diserahkan ke BPR Christa Jaya sebagai barang sitaan. Seharusnya sudah dilakukan penyerahan surat kuasa kepada BPR Christa Jaya, namun Rafi kabur. Jadi laporan istri Rafi, hanya mau imbangi kasus yang sedang menjeratnya,” kata Samuel Haning.

Haning menambahkan, kliennya sudah mengajak Rafi untuk selesaikan masalah itu secara damai maupun kekeluargaan, sehingga kasus itu bisa dihentikan. Namun, Rafi yang selalu mangkir. Walaupun demikian, kliennya masih tetap bersabar untuk menunggu itikad baik Rafi meminta maaf dan mengganti rugi kliennya sekitar Rp 15 miliar.

“Sampai sekarang kami masih punya niat baik untuk selesaikan secara damai. Klien kami siap bertemu dan selesaikan masalah ini, kalau dia tidak mau juga maka kami tetap akan tempuh langkah hukum,” kata Haning.

Komisaris Utama BPR Christa Jaya Christofel Liyanto menjelaskan, hutang Rafi di BPR Christa Jaya saat kabur mencapai Rp 15 miliar yang digunakan untuk bisnis jual beli mobil.

Menurut Liyanto, Rafi merupakan salah satu mitra dari BPR Christa Jaya dalam event bursa jual beli mobil bekas. Dengan sistem kerja, jika Rafi dan istrinya hendak membeli mobil, maka harus siapkan uang muka 30 persen, sedangkan 70 persen akan ditanggung Wilson.

“Caranya sebelum dicairkan dana 70 persen, Rafi harus membawa mobil untuk dilakukan pengecekan dan meninggalkan BPKB di bank. Bisnis itu sudah dilakukan Rafi dan Wilson sejak 2014 lalu. Mulai dari pinjaman Rp100-200 juta, dan seterusnya hingga 60 mobil, namun di tengah jalan Rafi menipu Wilson,” kata Liyanto.

Pada 2017 setelah dilakukan stok opname, lanjut Liyanto, ternyata jumlah BPKB tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Dimana jumlah mobil tidak mencapai 60 unit sesuai BPKB yang dipegang BPR Christa Jaya. Ternyata Rafi telah menjual 30-an mobil dengan harga murah tanpa menyerahkan uang ke BPR Christa Jaya untuk pengambilan BPKB.

Lebih lanjut Liyanto, menjelaskan, Rafi terus melakukan tindakan itu hingga dikejar para pembeli mobil untuk menyerahkan BPKB. Mulai saat itu, Rafi sudah sulit dihubungi hingga kabur. Stafnya sempat mencari ke rumah, namun tidak ada, sehingga rumah itu disita beserta isinya.

“Awalnya rumah itu dijaga oleh staf dari BPR Christa Jaya, namun beberapa lama berselang rumah itu dibiarkan kosong. Setelah dilakukan pengecekan kembali ternyata pintu belakang rumah terbuka, dan sebagian barang hilang. Setelah itu barang- barang sisa diamankan dan masih ada sampai sekarang. Jadi kalau bilang kami curi itu tidak benar,” kata Liyanto. (mg-10/R-2)