BTNK Terus “Berkelit”

berbagi di:
foto-hal-01-cover-130819-rusa-komodo-04

 
Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) sejauh ini terkesan berkelit mengenai berulangnya kasus pembantaian rusa dan kerbau oleh pemburu liar di kawasan TNK yang diungkap Polda NTB, pekan lalu.
BTNK beralasan, belum bisa dipastikan bahwa rusa-rusa yang dibantai dan diselundupkan ke Bima, NTB itu berasal dari kawasan TNK.

BTNK mengklaim bahwa rusa liar sebagai salah satu sumber pakan komodo, saat ini populasinya masih mencukupi.
Alasan-alasan dan bantahan tersebut dikemukakan Kepala BTNK Lukita Awang menjawab VN di sela-sela Rapat Tim Terpadu dalam rangka pengelolahan kawasan TNK di Hotel Luwansa, Labuan Bajo, Rabu (14/8) kemarin.

Untuk diketahui, pada Rabu (7/8) lalu, Tim Gabungan dari Pos TNI AL Sape, Posramil Lambu dan Kompi 3 Batalyon C Satbrimob Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) menggagalkan upaya penyelundupan ratusan ekor rusa yang dibawa dari Mabar. Kuat dugaan, hewan-hewan liar itu hasil perburuan liar di Pulau Komodo.

Lukita mengatakan, pihaknya baru bisa memberikan keterangan secara resmi mengenai kasus itu, apabila hasil penyelidikan Polda NTB menunjukkan bahwa rusa-rusa itu ditangkap di kawasan TNK.

“Harus ada pengakuan kebenaran dugaan asal dari rusa-rusa itu. Sejauh ini kasus penyelundupan rusa itu masih dalam proses penyelidikan kepolisian di NTB sehingga kami belum bisa memberikan tanggapan,” ujarnya.

Dia menegaskan selama ini petugas BTNK selalu ada setiap saat di pos-pos penjagaan yang ada di pulau-pulau dalam kawasan TNK. Pihaknya juga melakukan patroli keliling secara rutin dalam kawasan TNK.

 
Bantah Terlibat
Ia membantah adanya dugaan keterlibatan staf BTNK dalam kasus perburuan liar dan penyelundupan binatang hasil buruan dari kawasan TNK. Jika terbukti ada oknum petugas BTNK yang terlibat, ia akan memecatnya.
Dia kembali mengatakan bahwa petugas BTNK rutin melakukan patroli pengamanan dalam kawasan TNK, terutama di titik-titik yang selama ini dianggap rawan bagi masuknya pemburu liar. Dalam melakukan patroli keliling secara rutin tersebut tentu dengan memperhatikan kondisi lingkungan.

Awang menambahkan bahwa komodo (varanus komodoensis) sebagai pemakan daging (carnivora) sumber pakannya adalah binatang-binatang liar seperti rusa, kerbau, kuda, babi hutan, tikus dan hewan kecil lainnya.
Meski tidak menyebutkan angka, ia mengklaim bahwa rusa liar sebagai salah satu sumber pakan komodo, saat ini populasinya masih mencukupi. Komodo mempunyai karakter yang spesifik yaitu siklus makannya dapat dilakukan satu bulan sekali.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Julisa Kusumowardono yang dikonfirmasi, kemarin, juga mengatakan bahwa kasus penyelundupan rusa liar hasil buruan dari Mabar itu masih didalami oleh Polda NTB. Pihaknya selalu intens berkoordinasi dengan Polda NTB terkait perkembangan penyelidikan kasus tersebut.

“Sementara ini informasinya demikian dan penanganannya oleh kepolisian di Bima. Masih didalami di sana,” kata Julisa.

Sementara itu, di Kupang, Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Jules Abraham Abast mengatakan, TNK merupakan kawasan khusus dan kepolisian tidak sembarangan masuk untuk melakukan pengamanan.

“Kawasan tersebut merupakan kawasan khusus yang telah diatur oleh undang-undang. Kawasan khusus yang telah diatur oleh undang-undang, kita tidak sembarangan masuk,” ujarnya.

Ia mengatakan TNK berada di bawah kewenangan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Pengamanannya dilakukan Balai TNK. Karena itu, kasus perburuan dan penyelundupan rusa liar harus ditanyakan kepada pihak BTNK.

“Mengenai rusa yang diamankan Polda NTB itu, kita harus bertanya pada sumbernya, siapa yang mengawasi Taman Nasional itu. Itu dijaga oleh pihak keamanan Balai TNK. Karena itu informasi mengenai itu bisa ditanyakan ke pimpinan yang berhak di sana,” katanya.

Kasus perburuan liar di TNK ini bukan pertama kali. Pada Desember 2018 lalu, Polres Bima menangkap pemburu rusa yang beraksi di Pulau Komodo dengan membantai 100 lebih rusa yang dibawa ke Sape, NTB.

“Iya, benar, para terduga pelaku melakukan perburuan hewan rusa di Pulau Komodo dengan menggunakan senjata api laras panjang. Hasil buruannya dibawa ke Sape,” kata Kapolres Bima Kota (saat itu), AKBP Erwin Ardiansyah.

Erwin menuturkan penangkapan pelaku dilakukan di pinggir Pantai So Toro Wamba, Desa Poja, Sape, Bima, saat dilaukan aktivitas bongkar bangkai rusa hasil perburuan liar tersebut.

Polisi mengamankan dua buah senjata api rakitan laras panjang, 8 amunisi, sembilan ekor rusa mati, satu kepala kerbau dan satu unit kapal motor kayu.
Kapolres Mabar AKBP Julisa saat itu juga berjanji akan meningkatkan pengamanan di kawasan TNK. “Pascakejadian, pasti kami akan tingkatkan pengamanan di wilayah perbatasan antara Manggarai Barat dan Bima,” kata AKBP Julisa, Kamis (3/1/2019).

Ia mengatakan sebelumnya, Polres Mabar dengan Polres Bima Kota serta pihak BTNK sudah membangun koordinasi. “Kami memang dengan TNK dan Polres Bima serta Pemda Bima sudah bertemu dan membicarakan terkait keamanan wilayah perbatasan Manggarai Barat dan Bima. Selain itu bahas juga masalah pengamanan,” tambah dia.

Namun, kata dia peningkatan pengamanan seperti apa yang akan dilakukan, akan dibicarakan lebih lanjut lagi baik dengan pihak Taman Nasional Komodo dan Polres Bima.

“Nanti kami akan diskusikan lagi bagaimana teknis pengamanannya karena tantangannya adalah warga dari wilayah Bima yang sering berburu di sini,” tuturnya. (sat/mg-21/dtc/D-1)