Bulan Juni Ini, NTT Terima 6 Jenasah PMI

berbagi di:
img-20200627-wa0022

Jenazah PMI legal Rita Nopus saat tiba di Bandara El Tari.

 

 

 
Yapi Manuleus

Dalam bulan Juni 2020 ini, NTT telah menerima enam orang jenazah Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Jenazah PMI keenam atas nama Rita Mariana Nopus asal Amfoang Barat Laut tiba di Bandara El Tari Kupang, Jumat (26/6) mengunakan pesawat garuda Indonesia.

Jenazah dijemput pihak keluarga dan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2PMI).

Kepala BP2PMI Kupang Siwa saat dikonfirmasi mengatakan, Rita meninggal di rumah sakit di Malaysia karena sakit.

Siwa menjelaskan Rita merantau pada tahun 2018 lalu dengan dokumen lengkap. Artinya, almarhum merupakan TKI legal. Almarhum bekerja di perusahan, PT Alfira Perdana Jaya. Kenatiannya diketahui setelah keluarganya datang dan melaporkan soal kematian almarhum.

“Difasilitasi oleh perusahan tempatnya bekerja, almarhum akhirnya dipulangkan. Semua biaya ditanggung pihak perusahan. Pihak perusahan juga bersedia membayar pesangonnya selama 29 bulan kerja,” katanya.

Jenazah langsung dipulangkan ke kampung halamannya di Desa Oelfatu Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang untuk dikebumikan.

Siwa memastikan, penjemputan jenazah tersebut sesuai protokol kesehatan.

Ia menambahkan sudah enam jenasah PMI NTT tiba di Kupang selama bulan Juni. Tiga diantaranya PMI ilegal, sedangkan tiga lainnya terdata (legal).

Enam jenasah itu berasal dari Kabupaten Kupang, Sumba dan Malaka.

Ibu kandung almarhum Rita, Marinci Nisipi mengatakan, anaknya pergi menjadi PMI di Malaysia pada tahun 2018 melalui PT Alviana Perdana Jaya. Keberangkatan korban saat itu diketahui keluarga.

Marinci juga mengaku sebelumnya dia tidak mengetahui bahwa korban sudah meninggal dunia. Waktu mendapat kabar duka ini, Marinci mengaku hanya diberitahukan agar segera ke Kota Kupang dengan membawa surat-surat asli milik korban.

“Sampai di sini baru saya diberitahukan kalau korban sudah meninggal dunia,” ungkap Marinci.

Korban diketahui bekerja dengan kontrak selama dua tahun, tetapi korban melanjutkan kontrak dengan tambahan waktu satu tahun sampai tahun 2020, baru akan pulang.

Selama bekerja sebagai TKI sudah dua kali korban mengirimkan uang sebesar Rp 16 juta.

Keluarga juga sempat mendapat informasi bahwa korban juga mengalami sakit dan sempat dibawa ke rumah sakit di Malaysia. Berkas surat perjalanan korban menjadi TKI pun masih ada, sedangkan PT Alviana Perdana Jaya juga telah membantu membawa jenazah anaknya.

Kasie Perlindungan dan Pemberdayaan UPT BP2MI Kupang, Matheus Suban, mengatakan pihaknya baru mendapat informasi kematian korban setelah pihak keluarga dan PT Alviana datang memberitahukan di kantornya. (bev/ol)