Bumdes Ina Huk Budidaya Ikan Nila

berbagi di:
img-20200711-wa0035

 

 

 

 

Sinta Tapobali

Bumdes Ina Huk di Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat desa dengan budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok

Budidaya sistem bioflok merupakan budidaya ikan dengan bantuan bakteri baik. Budidaya ikan seperti ini sudah diterapkan oleh masyarakat NTT, khususnya oleh masyarakat di Dusun 1, Rt 5 Rw 02 Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang.

Bumdes Ina Huk di Desa Mata Air ini memiliki 10 bioflok yang dibangun dan dikelola oleh 10 komunitas masyarakat desa. Beberapa di antaranya komunitas kaum bapa, komunitas karang taruna, komunitas difabel dan kaum perempuan serta komunitas lainnya.

Kepala Desa Mata Air, Benyamin Kanuk mengatakan satu bioflok ini, menampung hingga 1.000 ekor ikan nila.

Menurutnya, teknologi bioflok menjadi pilihan tepat untuk nila, karena menghemat biaya operasional dan menghemat pakan selain itu juga menghemat penggunaan air sehingga lebih ramah lingkungan dan sesuai prinsipnya berkelanjutan.

Usaha serupa ini juga sudah dikembangkan oleh warga desa mata air di rumah masing-masing. “Mereka datang belajar di booflok ini kemudian mereka membuka usaha sendiri di rumah masing-masing pake terpal,” jelasnya.

Untuk merawat bibit ikan nila dari sejak bibit hingga siap untuk dipanen membutuhkan kurun waktu 3 bulan.

“Satu bioflok menampung hingga 1000 ekor ikan nila atau sekitar 167 kilo dan untuk satu kilo ikan nilai yang dijual sebesar Rp 45 ribu. Jika dihitung 167 kilo dikali dengan Rp 45 ribu maka dalam satu bioflok keuntungannya mencapai 7,5 juta. Bila satu bioflok Rp 7,5 juta maka dikali dengan 10 bioflog total keuntungannya sebesar Rp 75 juta. Hasil ini dibagi lagi kepada 10 komunitas pengelola bioflok ini,” ungkapnya menjelaskan.

Salah satu mahasiswa PKL dari Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas Kelautan dan Perikanan Undana, Merania Haba Dego kepada VN mengatakan untuk mengelola budidaya ikan dengan menggunakan sistem bioflok ini perlu diperhatikan beberapa hal.

img-20200711-wa0036

Pertama air yang digunakan untuk membudidayakan ikan nila ini harus bersih dan jernih. Apabila airnya keruh maka akan berakibat memunculkan bakteri-bakteri beracun yang dapat mematikan ikan.

“Air tidak boleh kotor, karena ikan mudah stress dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan,” ungkapnya mahasiswi asal Kabupaten Sabu ini.

Selain itu, pemberian pakan kepada ikan nila juga harus diperhatikan. “Tidak bisa satu kali kasi makan harus banyak-banyak tetapi harus sedikit-sedikit. Kenapa? karena kalau banyak makan makanan atau pakan yang lain itu akan mengendap didasar dan itu akan menjadi zat amonia dan ini beracun sehingga bisa mengakibatkan ikan ini mati,” jelasnya.

Namun, sebagai mahasiswa Merania mengaku hanya mempelajari ilmu secara teori dan masyarakat lebih memahami tentang praktik dari pengelolaan budidaya ikan ini. Ia hanya bisa melihat bagaimana cara budidaya ikan nila di Desa Mata Air ini namun ia berharap ke depan masyarakat melakukan budidaya dengan cara-cara yang tepat sehingga bisa menghasilkan ikan yang lebih baik lagi. (bev/ol)