Bumdes Kolarek Produksi Gola Kolang

berbagi di:
whatsapp_image_2019-05-09_at_23_55_10

Gerasimos Satria

Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula, Senin (12/8) memberikan apresia kepada BumDes Kolarek telah memberikan contoh yang baik bagi BumDes yang ada di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Bumdes Kolarek mulai mengelola gula merah siap saji dan praktis untuk dijual dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Menurutnya, penggunaan dana desa tersebut sesuai prioritas pembiayaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat terutama masyarakat Desa Sompang Kolang.

“Produksi gula lokal dalam kemasan siap saji merupakan upaya kreatif yang layak mendapat apresiasi. Sudah saatnya gula lokal kolang keluar dari pasar lokal ke pasar global. Sebagai pemimpin di daerah ini (Mabar), saya tentu sangat mendukung dan turut membantu mempromosikan gula lokal kolang,” jelasnya.

Bupati Gusti mengatakan gula lokal atau biasa disebut gola malang merupakan produksi masyarakat Manggarai Barat yang ada di Hamente Kolang dan Pacar yang diwariskan secara turun-temurun. Saat gula pasir belum beredar secara luas di Manggarai pada umumnya, Gola Kolang menjadi pilihan utama.

Dia mengatakan kedepan gola malang akan diupayakan menjadi sajian wajib pada semua intansi baik pemerintahan maupun swasta termasuk hotel dan restoran di Labuan Bajo apalagi saat ini banyak orang yang berminat mengkonsumsi gula lokal karena tidak mengandung zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan. Proses pembuatannya juga sangat ramah lingkungan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintah Desa Kabupaten Manggarai Barat, Mateus Ngabut memuji BumDes Kolarek yang telah serius mengelola potensi yang ada di Desa Sompang Kolang dan mendapatkan keuntungan.

Mateus  mengatakan Kecamatan Kuwus Barat termasuk wilayah unggul dan memiliki banyak potensi. Banyak potensi sumber daya alam yang dihasilkan seperti komuditas pertanian.

Ia berharap BumDes Kolaret bisa menularkan semangat kreativitasnya ke Bumdes lain.

Gula lokal gola malang bersumber sari pohon enau yang dimasak. Pohon enau biasanya terdapat dua jenis buah yang berbeda. Buah yang pertama disebut longkobuah yang kedua disebut ndara. Longko tidak bisa diolah menjadi air nira hanya menghasilkan biji sedangkan yang menghasilkan air adalah ndara.

Air nira rasanya sangat manis seperti buah kurma. Untuk menghasilkan gula atau gola dalam bahasa Manggarai, air nira ini dimasak dengan mengunakan kuali/wajan dalam bahasa setempat disebut Cewe Tana diatas api yang dinyalakan secara konsistenButuh waktu 3-5 jam, dengan tahapan tertentu agar air nira berubah jadi gula lokal.

Sebelum jadi gula, air nira yang dimasak melewati tahapan mendidih dengan warna putih-putih dan busa-busa dan sangat kental. Air nira yang sudah berubah warna harus terus diaduk agar hasilnya maksimal dan tidak hangus.