Bungkus Plastik Mi Instan Tak Terurai Hingga 19 Tahun

berbagi di:
big_8fb1a29c5a3cb4039e25fedc390d3b978cbe4e2b

Bungkusan mie instan yang ditemukan Finanisa Tiara Pradani lewat akun Twitternya @selfeeani pada Minggu (7/4).

 
Peneliti Oseanografi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) Muhammad Reza Cordova mengungkapkan faktor utama plastik sulit terurai di perairan adalah intensitas sinar matahari yang kurang akibat posisi plastik berada di bawah permukaan air.

Reza menjelaskan faktor plastik yang awalnya berada di permukaan air dapat turun ke posisi bawah permukaan air karena terjadi penempelan bahan organik seperti lumpur, nutrien dan biota-biota kecil yang ada di perairan.

“Tapi yang jelas jika posisi nya ada di atas akan lebih cepat hancur dibanding posisinya yang ada di dasar perairan karena secara suhu lebih kecil. Lalu kemungkinan paparan sinar mataharinya lebih pendek daripada yang di bagian permukaan,” jelasnya saat dihubungi CNNIndonesia.com, kemarin.

“Ada biota-biota lain lama-lama plastik itu berat jenisnya akan lebih berat dari air karena yang menumpang banyak ditempeli lumpur, nutrien, dan biota-biota lain akhirnya turun ke bawah (permukaan air),” sambungnya.

Sinar matahari itu berfungsi untuk memutus ikatan polimer sehingga plastik akan lebih cepat terurai. Polimer merupakan gabungan dari ikatan-ikatan monomer yang ada di plastik itu sendiri.

Reza sempat memberi contoh untuk bahan plastik botol air mineral dapat bertahan selama 50 hingga 100 tahun. Namun dia tidak dapat memastikan berapa lama plastik yang berada di perairan dapat terurai karena bergantung dengan material yang menempel pada plastik.

“Plastik ini diciptakan awalnya itu untuk bisa bertahan lama, tergantung dari materialnya apa saja yang menempel agak susah untuk dipastikan tetapi bisa tahunan,” pungkasnya.

Dilansir dari diet kantong plastik, plastik memang sulit diurai oleh mikroorganisme karena rantai karbonnya yang panjang. Terlebih lagi karena sifatnya yang cepat terurai menjadi mikro plastik, akan lebih mudah untuk mencemari lingkungan.
Selain itu, jika plastik digunakan sebagai wadah makanan maka berpotensi untuk mengganggu kesehatan manusia karena racun yang ada di plastik itu akan berpindah ke makanan yang dikonsumsi.

 

Foto Viral
Persoalan plastik ini muncul akibat dari foto viral yang diunggah oleh Finanisa Tiara Pradani lewat akun Twitternya @selfeeani pada Minggu (7/4) yakni kemasan plastik mi instan berusia 19 tahun yang bertuliskan ‘Dirgahayu 55 Tahun Indonesiaku’.

Bungkus mi instan itu ia temukan di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat dihubungi CNNIndonesia.com, Fianisa mengatakan bungkus Indomie ini akan dikirimkan ke Aceh untuk kepentingan iklan layanan masyarakat.

“Mau dikirim ke Aceh untuk iklan layanan masyarakat agar muncul kesadaran masyarakat. Di Twitter, ada yang minta plastik ini supaya dikirimkan ke Aceh,” kata Fianisa, Senin (8/4).

Kepada CNNIndonesia.com, mahasiswi Program Studi Kelautan Universitas Brawijaya mengatakan menemukan sampah ini di Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Ia mengakui sering mengumpulkan sampah di pesisir laut ketika sedang senggang.

“Sebenarnya saya jarang unggah foto, tapi Indomie 19 tahun itu menarik. Saya juga awalnya tahu karena ada tulisan ‘Dirgahayu 55
Tahun Indonesiaku’. Jadi saya tahu kalau ini umurnya 19 tahun,” ujar Fianisa saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (8/4).
Fianisa mengatakan bungkus Indomie ini akan dikirimkan ke Aceh untuk kepentingan iklan layanan masyarakat.

“Mau dikirim ke Aceh untuk iklan layanan masyarakat agar muncul kesadaran masyarakat. Di Twitter, ada yang minta plastik ini supaya dikirimkan ke Aceh,” kata Fianisa.

Selain bungkus mi instan, Fianisa juga menemukan berbagai macam sampah lain. Mulai dari botol plastik, bolpoin, sedotan, bungkus kemasan jajanan, hingga filter rokok. Ia mengaku merasa ironis sampah plastik bisa bertahan selama hampir 20 tahun.

Fianisa mengatakan usia bungkus Indomie tersebut lebih lama dibandingkan usianya sendiri. Ia mengatakan tak terbayang berapa banyak sampah di Bumi dan lamanya waktu yang dibutuhkan plastik agar terurai.

“Sedih dan ironis, terutama merasa tertampar karena penemuan bungkus tersebut menyadarkan kalau plastik memang bertahan lama di alam sedangkan saya dan orang lain di bumi ini menggunakan plastik di kegiatan sehari-harinya,” ujar Fianisa.

Dihubungi terpisah, Manajer Program Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Dithi Sofia mengatakan rata-rata sampah plastik baru bisa terurai dari puluhan tahun hingga ratusan tahun.

Dithi mengatakan bungkus mi instan juga sulit didaur ulang karena bahannya tipis dan merek dagang Indomie sudah tercetak pada bungkus.

“Rata-rata plastik itu perlu ratusan tahun untuk terurai. Bungkus ini sulit terurai dan juga sulit didaur ulang, karena bahannya tipis, sudah ada cetakan merek. Kalau kemasan bumbunya itu plastik berlapis (lebih tebal), yang lebih sulit terurai dan didaur ulang,” kata Dithi.
(cnn/S-1)