Bupati Ajak Pimpinan OPD Hadiri Ritual Perdamaian Wulandoni-Pantai Harapan

berbagi di:
ilustrasi damai

Hiero Bokilia

 

 

Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur mengajak seluruh pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) libgkup Pemkab Lembata untuk menghadiri ritual adat perdamaian di Wulabdoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/8) hari ini. Semua pimpinan OPD diharuskan hadir pada ritual adat perdamaian di Wulandoni mengingat pentingnya ritual ini demi pelayanan dan kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik ke depan di Kecamatan Wulandoni.

Demikian dikatakan Bupati Eliyaser Yentji Sunur kepada wartawan di Lewoleba, Jumat (4/8).

Bupati Eliyaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai dipastikan menghadiri ritual adat secara Lamaholot di Wulandoni hari ini.

Sunur kepada semua pimpinan OPD menegaskan pentingnya kehadiran pada ritual dimaksud. Ia menegaskan agar beberapa pimpinan OPD yang dihubungi memastikan semuanya akan hadir pada kegiatan ritual adat perdamaian dimaksud.

Camat Wulandoni Raimundus Beda Assan  membenarkan bahwa ritual adat perdamaian akan dilaksanakan Sabtu hati ini. Ia bersama tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah tiga desa yang berseteru serta pemerintah di 12 desa lainnya telah bersama-sama sepakat  memfasilitasi dan mendukung ritual adat perdamaian dimaksud.

Menurutnya, semua semua tokoh, pemerintah desa, bersama seluruh masyarakat Kecamatan Wulandoni telah satu hati untuk mengakhiri konflik dan sepakat  menciptakan perdamaian karena menurutnya, semua masyarakat menginginkan agar jalinan persaudaraan yang dahulu telah tercipta sangat baik antar-masyarakat di seluruh desa se-Kecamatan Wulandoni dapat terajut kembali.

Sebelumnya,  Wakil Ketua DPRD Kabupaten Lembata Yohanes de Rosari mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemkab untuk mendamaikan kedua kelompok warga desa di Kecamatan Wulandoni yang bertikai 2014 silam.

Ia mengakui, Dewan secara kelembagaan juga telah diundang untuk hadir dalam ritual adat dimaksud. Upaya perdamaian itu merupakan harapan bersama yang dinanti-nantikan selama ini agar warga berkonflik bisa didamaikan.

“Kita apresiasi adanya terobosan untuk perdamaian karena kita tidak mau tragedi berdarah itu terulang kembali. Ini solusi yang sangat pas agar masyarakat bisa hidup tenang. Kita semua sama saudara. Kadang hanya karena tanah sejengkal bermusuhan dan berkepanjangan. Untuk apa itu,” tegas de Rosari.

Menurutnya, upaya fasilitasi yang dibuat pemerintah sudah cukup bagis dan selanjutnya tinggal dibina dan terus diadvokasi agar aspirasi masyarakat dapat lebih dikonkretkan seperti apa yang dimaui masyarakat.

Ia  menilai hidup dalam konflik dan pertikaian tidak nyaman sehingga harus diupayakan agar bisa hidup damai dan saling berdampingan.