Butuh 25 Jam Kuburkan Bangkai Paus Biru

berbagi di:
Ditarik: Paus Biru saat ditarik dua excavator ke dalam liang kubur, Kamis (23/7) siang. (Foto:Yappy Manuleus)

Ditarik: Paus Biru saat ditarik dua excavator ke dalam liang kubur, Kamis (23/7) siang.

Yappy Manuleus

MELALUI proses evakuasi yang melelahkan sejak Rabu (22/7) pukul 12.00 Wita dari Perairan Uinao, Pulau Semau, bangkai ikan paus biru yang terdampar di Pantai Nunhila, Kota Kupang, pada Selasa (21/7) sore, berhasil dikubur di pantai Dusun 4 Desa Lifuleo, Kupang Barat pada Kamis (23/7) sekitar pukul 15.30 Wita.

Saat excavator milik PLTU Timor 1 berhenti meratakan lubang berisi mamalia seberat 100 ton pukul 15.20 Wita, maka selesailah sudah jerih lelah Tim Gabungan selama 25 jam lebih melakukan proses evakuasi hingga penguburan.

Wartawan VN Yappy Manuleus yang bertahan bersama puluhan rekan seprofesi sejak Rabu siang, melaporkan bahwa usai lubang tetutup rapih, tim gabungan yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, PLTU Timor 1 Air China, Polsek Kupang Barat, Fak Kedokteran Undana, Kades Lifuleo dan jajarannya, menampakkan raut wajah gembira.

Kepala Seksi P3 BBKSDA NTT Imanuel Ndun kepada VN menuturkan, proses evakuasi berlangsung selama tiga hari. “Semua tim diturunkan, dan syukur hari ini bisa selesai semua. Awalnya pikir hanya dua hari saja tapi karena memang dengan kondisi seperti ini makanya sampai tiga hari,” katanya.

Bahkan puluhan petugas BBKSDA NTT terpaksa bermalam di pantai Desa Lifuleo setelah proses evakuasi yang berlangsung sejak Rabu siang, gagal membawa bangkai paus ke lubang kubur yang sudah disiapkan.

Kepala Cabang DKP Wilayah Kerja I (Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Sabu Raijua dan Rote Ndao) Fransisco Meo kepada VN juga mengaku lega setelah paus berumur sekitar 80-90 tahun ini bisa dikuburkan. “Lelah, tapi berhasil menguburkan dengan baik. Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pekerjaan melelahkan ini,” ungkap Fransisco.

Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan pada Cabang DKP Wilayah Kerja I, Yoyos Thelik menambahkan, proses evakuasi paus ke dalam lubang yang dilakukan sejak Kamis malam, dihentikan sekitar pukul 04.00 Wita. “Tadi malam sampai jam empat subuh aktivitas tim setop. Dan hari ini (kemarin-red) dilanjutkan kembali dengan penusukan perut dan penguburan,” terangnya.

Ritual Adat
Terpisah, Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara menjelaskan, sebelum bangkai paus biru ini dikubur, dilakukan ritual adat oleh tokoh masyarakat setempat.

“Setelah terbawa arus laut mendekati Pulau Semau dari Pantai Nunhila, bangkai paus dievakuasi ke daratan dan dinekropsi untuk mengonfirmasi penyebab kematian. Nekropsi dilakukan dengan mengambil sampel kulit dan pengecekan organ dalam paus, guna mengetahui penyebab kematiannya oleh dokter hewan BBKSDA NTT dan dokter hewan UPT Veteriner
Dinas Peternakan Provinsi NTT,” kata Timbul.

Ia menjelaskan bahwa saat ditemukan, kondisi paus sudah dalam keadaan mati dan telah memasuki tahap pembusukan awal, yang ditandai dengan terciumnya bau busuk (gas methan). “Penyebab kematian mamalia laut itu diduga akibat sudah tua saat migrasi, melintasi perairan Laut Sawu dan Teluk Kupang. Untuk menghindari penularan penyakit (zoonis) bangkai paus harus dikuburkan,” katanya.

Untuk diketahui, jenis paus biru betina tersebut diperkirakan berumur 70-80 tahun, ukuran panjang diperkirakan 29 meter, lingkar badan 17 meter dengan status perlindungan PP nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa. (merdeka.com/R-4/yan/ol)