Cerpen: Keturunan Sepasang Gunung

berbagi di:
ilustrasi

Karya : Jhoni Lae

 

 

 

Sebuah sepeda motor revo fit meluncur pelan menyibak embunan yang masih terbang di antara ruas-ruas jalan itu. Daun-daun kering yang sudah gugur dan jatuh di jalan juga ikut tersibak angin selepas motor itu berlalu. Sepi dan dingin membikin dua lelaki di atas motor menggigil. Jaket kulit yang mereka pakai tidak bisa menghalangi dingin untuk masuk dan menggigit tubuh kurus mereka. Sekali lagi, mereka masih menggigil berkali-kali.

Mereka sampai di depan Kantor Desa Oepuah saat matahari mulai bangun. Dingin masih menggigit dan membuat gigil tubuh mereka. Desa Oepuah terletak di pesisiran Pantai Utara Pulau Timor. Mungkin karena itu, di Bulan Juni dingin seolah meraja. Mulai dari anak-anak sampai mereka yang sudah ompong terus membungkus diri dengan tais atau bete sampai jam sepuluh pagi. Kecuali mereka yang pergi ke sekolah atau kantor.

Servas Utan mulai gelisah. Kantor Desa itu masih sepi. Hanya ada seekor sapi yang terikat di sudut kanan gedung itu. Lalu dia membakar sebatang rokok menara dan menyulutnya. Tarikannya dalam pertanda ia sedang resah. Sedang di sampingnya, Gerson Malak hanya menggeleng, pun bibirnya membentuk senyum paksa.

Mereka adalah sepasang sahabat yang satu kaki. Di mana Servas berada, disitupun Gerson berada. Ketika di bangku sekolah dasar, setelah pulang sekolah mereka pergi ke sungai untuk mecari udang. Di sana Servas Utan hanya akan jadi bahan hinaan Gerson Karena saling menghina itu pernah mereka berkelahi. Itu perkelahian mereka pertama dan terakhir kali.

Mereka sempat berpisah pada tahun 1999 saat terjadi pergolakan Timor Timur. Ayah Servas membawa keluarganya pergi ke kampung tetangga yang merupakan bagian dari kekuasaan Timor Timur. Servas kecil hanya mengikuti kemauan ayahnya. Dia tidak menggubris juga tidak melawan seperti seekor anak domba yang hendak dibawa ke pembantaian. Sedang Gerson bersama keluarganya memilih pergi dan tinggal di Kota Kefamenanu, di sebuah rumah kontrakan dekat Pasar Baru.

Perpisahan itu sangat memilukan. Hari-hari Gerson tidak bisa kunya jagung katemak dengan baik karena dia rindu sahabat karibnya. Perang dingin yang terjadi di perbatasan Napan dan Oecuse bahkan di tengah kota Kefamenanu membuat Gerson mengurung diri dalam rumah. Pokoknya dia hanya di dalam rumah seperti rumah adalah naungan yang teduh untuk menaungi diri dari ketikdaknyamanan. Apalagi mobil patroli yang setiap satu setengah jam naik turun dengan pelantang, memberitakan tentang jumlah korban jiwa akibat perang. Dia semakin takut keluar rumah. Mandi, kencing dan berak dalam rumah saja.

Lain dengan Gerson, Servas Utan malah lebih menikmati hidup di tengah dentuman senjata. Dengan talenta bicara banyaknya, dia cepat diterima oleh banyak orang khususnya lelaki-lelaki perkasa yang biasa berperang. Biasanya pada malam hari Servas dijadikan tukang urut lalu mereka mempersilahkan Servas untuk menonton mereka menggauli para pelacur. Karena keseringan menonton adegan mesum, diam-diam Servas mulai berimajinasi saat sebelum matanya terpejam. Gairahnya untuk menggauli perempuan mulai liar dan sulit terkendali lagi. Begitulah yang terjadi. Setelah perang dingin itu berakhir Servas melarikan diri ke Kefamenanu.

Matahari di pesisir Pantai Utara Pulau Timor mulai menghilang. Tinus Tabenat mulai langkah panjang kembali ke gubuknya. Dia baru dari ladang. Menurut cerita opanya, jika kembali dari ladang saat matahari sudah benar-benar tenggelam maka akan ada banyak suara di sepanjang jalan, lebih-lebih di depan rumah kosong yang letaknya kira-kira dua ratus langkah dari sebuah kuburan tua yang adanya tepat di bawah naungan sebuah pohon beringin yang besar. Karena cerita itu, Tinus mulai mempercepat langkahnya. Sekali lagi, dia langkah panjang-panjang.

“Tinus, usahakan supaya kalau pulang dari ladang jangan sampai matahari sudah benar-benar tidur. Sebab nanti ada banyak suara di sepanjang jalan lebih-lebih di depan rumah kosong milik Tua Niruf”, lagi-lagi suara ayahnya membuat Tinus merinding.

Tinus berlangkah semakin panjang. Kadang dia lari. Ketika sampai di kuburan dadanya mulai bergemuruh semakin keras. Semakin cepat. Semakin panjang dia berlangkah dan ketika sampai di depan rumah kosong itu dia mulai berlari. Cepat dan lincah seperti seorang prajurit perang yang menghindar dari tembakan lawan. Dia akhirnya melewati rumah kosong itu dengan janjung yang hampir tercopot.
Tua Niruf merupakan seorang kakek yang hidup seorang diri. Dia tidak beristri. Hidupnya seperti seorang pengembara. Dia tidak pernah tinggal tetap. Di mana ada sumber makanan yang bisa membantu memperpanjang hari hidupnya, di situlah dia akan tinggal. Dan ketika sumber makanannya sudah habis, dia akan berpindah lagi. Terus menerus hingga pada suatu waktu saat usianya sudah benar-benar senja dia memilih untuk menetap pada sebuah dataran di antara Gunung Oepuah dan Gunung Tapenpah. Di situlah dia mulai peziarahan hidupnya yang baru.

“Bukan hanya itu Tinus, kalau kamu pulang saat gelap nanti kamu juga akan bertemu dengan sepasang kekasih kira-kira dua ribu langkah dari rumah Tua Niruf. Tapi jangan takut, mereka tidak akan apa-apakan kamu. Mereka hanya akan tersenyum dan lewat begitu saja tanpa bersuara”, lagi-lagi cerita ayahnya singgah di kepalanya.

Tua Niruf menjalani hari-hari tuanya pada sebuah gubuk dekat kuburan. Dia masih hidup sendiri. Entah kenapa tiba-tiba saja dia tidak bisa berjalan. Dia hanya mampu melewati hari-harinya di atas pembaringan. Tidak ada yang merawatnya. Dia sudah pasrah bahwa memang waktunya sudah dekat, dia akan pulang kembali ke tempat yang darinya dia datang. Dan memang benar, dia hanya mampu bertahan kurang dari dua puluh empat jam. Lalu dia pulang sendirian. Tidak ada yang meratap, pun tidak ada yang membuat ritual kepergian.

Tinus akhirnya sampai di rumah. Dia merebahkan diri pada sebuah bangku sembari memikirkan kembali pengalaman mendebarkan yang baru dialaminya. Itu pengalaman pertamanya setelah tujuh tahun hidup sebagai petani dan setelah delapan tahun mendengarkan cerita opanya.

Servas Utan dan Gerson Malak masih duduk sendirian di depan Kantor Desa Oepuah. Hari sudah benar-benar siang kira-kira waktunya para pegawai kantor makan siang. Servas Utan sudah menghabiskan satu bungkus rokok menara dan mulai membakar satu batang lagi dari bungkusan yang baru.

“Gerson, dimanakah orang-orang di desa ini? Saya sudah lelah menunggu. Sejak pagi tadi tidak ada seorang pun yang datng di Kantor Desa ini. Apa gedung ini tidak digunakan lagi? Atau orang-orang di desa lagi sibuk”. Gerson hanya diam. Dia tidak berminat berargumen dengan sahabatnya itu. Dia mengerti dan tahu siapa Servas.

Servas Utan bertemu kembali Gerson Malak kira-kira dua minggu yang lalu. Di Kefamenanu mereka mulai merajut kembali tali persahabatn mereka yang pernah terputus. Suasana mulai reda. Tidak ada lagi dentuman senjata dan tidak ada lagi mobil patroli yang jalan naik turun. Pokoknya situasi sudah mulai aman. Para pejabat sudah bisa masuk kantor. Hanya saja Servas datang dengan membawa satu misi lalu dia meminta Gerson membantunya.
“Gerson semoga kamu membantu saya mencari kebenaran.”

“Maksud kamu apa Servas”

“Kita akan pergi ke Desa Oepuah untuk mencari kebenaran bahwa saya adalah keturunan sepasang gunung”

“Maksudmu apa Servas”

“Kata ayahku, kami adalah keturunan sepasang gunung. Gunung Oepuah dan Gunung Tapenpah. Kala itu ada seorang kakek bernama Tua Niruf tinggal di antara dua gunung itu. Dia tidak beristri. Karena itu setelah dia meninggal kedua gunung itu menjelma menjadi sepasang kekasih dan mereka tinggal di tempat itu. Tempat itu mulai terkenal setelah mereka melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu mempunyai istri lalu mempunyai seorang putra bernama Tinus. Tinus itu ayah dari ayah saya. Jadi saya hanya ingin memastikan kebenaran cerita itu Gerson”

Matahari sudah mau tenggelam. Servas dan Gerson masih sendirian di depan Kantor Desa Oepuah. Dengan kesal mereka pulang sebab gagal mendapatkan kebenaran. Servas Utan maki-maki di atas motor mulai dari depan Kantor Desa Oepuah sampai di Kota Kefamenanu. (*)

 

Penulis tinggal di Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang , bergiat di Komunitas Sastra Filokalia STSM.