Covid-19 Tidak Membuat Pedagang Takjil Takut Berjualan

berbagi di:
img-20200430-wa0059

Suasana penjualan takjil, Kamis (30/4) sore. Foto: Sinta/VN

 

 

 

 

Sinta Tapobali

Sejumlah pedagang takjil di Kota Kupang, NTT tampak tetap ramai berjualan di sekitar Jalan Urip Sumoharjo atau depan Bank Mandiri, Kamis (30/4).

Padahal di tengah pandemi Covid-19 Pemerintah Kota Kupang telah membatasi bahkan melarang aktivitas penjualan takjil. Meski dilarang, penjual tetap nekat meraup untung di tengah pandemi.

Subaidah, pedagang takjil Kampung Solor mengaku berjualan karena membutuhkan uang untuk lebaran nanti.

Menurutnya, jika mereka dilarang berjualan harusnya pemerintah juga adil untuk melarang semua pedagang berjualan, baik itu di pasar maupun di tempat jualan takjil lainnya.

“Kami butuh uang untuk lebaran. Kami orang susah dan hanya berharap di bulan suci Ramadan saja. Kami berharap agar Pak Wali Kota berbesar hati untuk mendengar kami rakyat miskin ini yang berjualan setahun sekali. Mohon diberi izin supaya kami semua bisa berjualan. Kalaupun tidak diizinkan, saya minta keadilan supaya semua tidak berjualan. Kalau kami di Kampung Solor tidak boleh berjualan mestinya adil, baik itu yang di Airmata, Kuanino, bahkan pasar pun harus tutup kalau kami diwajibkan untuk tutup,” ungkapnya.

Ia mengatakan selama berjualan mereka selalu diberi imbauan untuk mengatur jarak, memakai masker, sarung tangan dan menyediakan air cuci tangan.

img-20200430-wa0055

“Semua itu sudah kami lakukan tetapi tetap salah. Maksudnya, kami sudah lakukan semua imbauan dan aturan tersebut tetapi tetap dilarang untuk tidak berjualan. Kenapa dari awal bulan puasa kami tidak dilarang untuk berjualan. Kami sudah terlanjur belanja untuk berjualan. Kami semua mengambil modal dari yang punya modal seperti saya pinjam di koperasi. Kalau kami disuruh tutup bagaimana dengan pengembalian modal kami. Kami tidak takut selama kami selalu waspada dan yang datang beli juga bungkus bawa pulang tidak makan di sini,” ujarnya.

Ketua pedagang takjil Ramadhan Bonipoi, Faizah Syaril mengakui pemeritah telah datang dan bernegosiasi dengan para pedagang di lokasi tersebut. Pemerintah menganjurkan untuk mereka selalu rajin cuci tangan, pakai masker, kaus tangan, dan jaga jarak.

“Semua yang dianjurkan pemerintah sudah kami ikuti mulai dari cuci tangan, pakai masker, kaus tangan, dan jaga jarak juga sudah kami jalankan. Namun, mereka minta untuk stop jualan. Kita bisa saja stop, tapi bagaimana dengan saudara kita yang pinjam dana untuk modal dari gadai emas, gadai motor hingga gadai BPKB, bagaimana mereka kembalikan, kan itu juga harus dipikirkan,” ujarnya.

Menurutnya, para penjual rata-rata sudah 15 tahun berjualan setiap tahun.

“Kalau mau ditutup, semua ditutup baik itu pedagang yang berjualan pagi, siang, maupun malam semua harus ditutup. Interaksi yang paling fatal adalah pasar karena semua bahan mentah dan bahan jadi dijual di sana. Kalau mau ditutup sekalian semua ditutup, tapi sekali lagi apakah pemerintah bisa menjamin warga Kampung Solor atau tidak,” ungkapnya. (bev/ol)