Dampak Festival tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

berbagi di:
img-20190911-wa0031-1
Para siswa penari Samson siap tampil di acara pembukaan Festival Seni Budaya Lamaholot 2019 Flores Timur. Foto; Hiero Bokilia/VN
Hiero Bokilia
Pelaksanaan Festival Seni Budaya Lamaholot di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur resmi dibuka Rabu (11/9). Pro kontra atas event ini bermunculan. Menjawabi pro kontra terutama terhadap dampak dari festival itu, Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon menjawabnya dengan taktis.
Di hadapan ribuan masyarakat Flores Timur pada acara pembukaan Festival Seni Budaya Lamaholot yang dipusatkan di lapangan bola Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Rabu (11/9), Bupati Anton Hadjon menegaskan festival penting dilaksankan dan dampaknya akan dirasakan nanti.
Ia menegaskan dampak dari festival tak semudah membalikkan telapak tangan. Hal yang paling utama dari festival ini adalah menumbuhkan kebanggaan dari dalam diri setiap orang Lamaholot Flores Timur yang menyatakan diri orang Lamaholot untuk memuliakan apa yang dimiliki. Karena dari situ akan muncul dampaknya baik sosial maupun dampak ekonomi.
Bupati Flotim Hubertus Gege Hadjon. Foto: Hiero Bokilia/VN
Bupati Flotim Hubertus Gege Hadjon. Foto: Hiero Bokilia/VN
“Kita harus bangga menjadi orang Lamaholot. Semua unsur harus terlibat penuh untuk bersama-sama mempercepat Flores Timur yang sejahtera, sehingga pelaksanaan Festival Seni Budaya Lamaholot memberikan nilai penting buat masyatakat dari nilai – nilai luhur yang telah diwariskan,” tegas Hadjon.
Ia berharap, jika tradisi kebudayaan dijaga dan dilaksanakan secara baik serta menampilkan nilai-nilai seninya, maka secara otomatis akan mengundang banyak orang mengunjungi Flores Timur.
Perangi Sampah Plastik
Pada kesempatan itu, Bupati Anton Hadjon juga menandatangani menandatangani Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pengurangan Produk Berbahan Dasar Plastik di Kabupaten Flores Timur.
Penandatangan Perbup itu  sebagai bentuk keseriusan  Pemerintah Flotim menyatakan perang terhadap sampah terutama sampah plastik sekaligus upaya menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Bupati Hadjon, sebelum menandatangi Perbup tersebut, mengatakan, pelaksanaan Perbup ini mulai dari OPD. Dengan diberlakukannya Perbu tersebut, selain diberlakukan wajib bagi OPD, diharapkan masyarakat pun sudah mulai mengurangi bahkan menghentikan budaya mengonsumsi bahan makanan dan minuman dalam kemasan plastik
Perang terhadap sampah plastik tersebut dimulai dengan menghindari penggunaan air mineral dalam kemasan plastik dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Staf Ahli Menteri Urusan Hubungan Pusat  dan Daerah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan James Mando Hau mengatakan, Festival Lamaholot yang diselenggarakan saat ini menggambarkan persatuan warga Lamaholot Flores Timur. Ritus yang ada di masyarakat bisa dikembangkan secara lebih baik sehingga menjadi khasanah budaya daerah.
Festival, lanjutnya, diharapkan mampu merajut persatuan dan kesatuan di tengah isu perpecahan yang terus muncul akhir-akhir ini.
Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, tengah mendorong adanya penyatuan program dan platform Indonesia Raya untuk mendukung berbagai festival yang ada di daerah yang bertujuan untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.
Penandatanganan Perbup Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pengurangan Produk Berbahan Dasar Plastik di Kabupaten Flores Timur. Foto; Hiero Bokilia/VN
Penandatanganan Perbup Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pengurangan Produk Berbahan Dasar Plastik di Kabupaten Flores Timur. Foto; Hiero Bokilia/VN
“Ragam budaya ini diharapkan dapat memperkokoh jati diri kita dalam mendukung kebhinekaan,” kata James.
Pembukaan Festival Seni Budaya Lamaholot petang hingga malam tadi dipadati warga dari tujuh desa di Kecamatan Lewolema dan warga Flotim lainnya. Sebelum memasuki lokasi pusat kegiatan, Bupati dan rombongan disambut tiga tarian yakni tarian Petudun dari Desa Bantala, tarian Gong Pito yang dibawakan oleh sekitar 50 siswa-siswa SMP Hewa, serta drumb band tradisional.
Di acara pembukaan, penampilan kurang lebih 350 penari yang terdiri dari dari para siswa SD dan SMP SE-Kecamatan Ile Mandiri menampilkan tarian Sason yang memukau hadirin dan sebagai tarian pembuka Festival Seni Budaya Lamaholot 2019. (bev/ol)