David Akui Terima Fee Rp 7,5 Juta Per Orang

berbagi di:
stop human trafficking
Megi Fobia
Tersangka kasus human trafficking David Tabana warga RT 28/RW 009 Kelurahan Kolhua Kecamatan Maulafa Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur yang berhasil diamankan aparat Satgas Anti Trafficking Kepolisian Resort Timor Tengah Selatan (TTS) mengaku mendapat fee sebesar Rp 7-8 juta per satu orang tenaga kerja ilegal yang dikirim ke Malaysia.
Pada tahun 2012, tersangka David Tabana menjabat sebagai Kepala Cabang PT Mangun Jaya Perkasa dan berhasil diamankan penyidik Polda NTT bersama sembilan orang teman lainnya. Setelah diamankan selama 15 hari di tahanan Polda NTT,  mafia kelas kakap yang mengirim ribuan orang ke NTT ini ditangguhkan oleh dua orang penyidik Polda NTT yakni EKa Akal dan Yance Kadiaman selaku penyidik. Sembilan orang yang diamankan dan ditangguhkan oleh penyidik diantaranya Andi Kila, Petrus da Silva dan Jhon Kase. David mengaku sudah lupa teman-teman lainnya.
Demikian dikatakan tersangka David Tabana kepada VN ketika digiring penyidik Polres TTS, Brigpil Rudy Zoik bersama anggota lain saat menggirinya ke tahanan Polres TTS, Senin (16/8)
Pantauan VN, tersangka David Tabana menggunakan baju kaos dipadukan celana jeans pendek tiba di Polres TTS pukul 18.51 Wita dengan sebuah mobil kijang silver yang dikawal oleh sejumlah anggota Polres TTS dipimpin Brigpol Rudy Zoik.
Ayah empat orang anak ini mengakui dirinya terlibat dalam proses penjualan orang sejak 2012. Semasa terlibat dalam penjualan orang, ia mengaku fee yang didapatnya sebesar Rp 7,5 juta per orang.  Namun, setelah ia ditangkap dan diamankan di tahanan Polda NTT, ia berhenti dan baru kembali merekrut orang pada tahun 2014 termasuk  mengirim korban Ance Juliana Punuf warga Oehani Desa Toineke Kecamatan Kualin Kabupaten TTS.
David mengakui ia mengirim korban Ance Juliana Punuf pada Juli 2014, setelah ada permintaan dari Yanti Banu. Fee yang didapat senilai Rp 8 juta. David adalah penghubung Yanti Banu dengan Boi Moi yang mengurus semua identitas korban Ance Juliana Punuf menampung korban di Bau Bau Kabupaten Kupang.
“Tahun 2014 saya diminta oleh Yanti Banu untuk kirim Ance Punuf, dengan imbalan yang saya terima Rp 8 juta, sedangkan sebelumnya besaran fee senilai Rp 7,5 juta,” jelasnya.
David mengatakan setelah menghubungi Boi Moi, Boi melanjutkan urusan selanjutnya karena memiliki akses ke Jakarta  karena PT Mangun Jaya Perkasa sudah tidak lagi beroperasi. Semasa PT tersebut aktif, ia mengaku berhasil mengirim ribuan orang NTT ke Malaysia. Ia bekerjasama dengan Ardi Fora “bermain” di belakang layar PT Mangun Jaya Perkasa.
Kasat Reskrim Polres TTS, Iptu Yohanes Suhardi melalui Brigpol Rudy Zoik menjelaskan, sesuai dengan surat perintah penangkapan (Sprinkap) Nomor 62/VIII/2017/RES TTS Tanggal 13 Agustus, Satgas Anti Trafficking Polres TTS mulai membuntuti pelaku selama empat hari.
Minggu (14/8) malam, sekitar pukul 19.45 Wita, Rudy mengatakan berhasil mengamankan pelaku di kediamannya di BTN Kolhua Kupang. Pelaku lalu diamankan di Polresta Kupang dan digiring ke Polres TTS.
Korban, Ance Juliana Punuf pertama kali diajak oleh Yusmina Nenohalan untuk bekerja di Kupang, namun setiba di Kupang Selvi Koi menjemput korban lalu diserahkan ke Yanti Banu, Yanti memberikan lagi ke David yang terlibat kasus deportase pada tahun 2013 tetapi ditangguhkan, setelah itu David kembali menghubungkan antara Yanti dengan Boi Moi yang saat ini menjadi  DPO Satgas Trafficking Polres TTS.
Setelah korban berada di Boi Mou, lanjut Rudy, ia berhubungan dengan jaringannya di Jakarta untuk menerbitkan passport korban Ance Juliana Punuf dari Jakarta Barat, sehingga dalam pengembangan kasus tersebut, ia mencari jaringan trarfficking di Jakarta.
“Karena passport korban dari Jakarta maka jaringan kasus tersebut segera diselidiki oleh Satgas Anti Trafficking Polres TTS,” ucapnya.
Dalam perkembangan lanjut dia, jaringan mafia perdagangan orang akan segera diselidiki setelah ada perkembangan penyidikan dari tersangka David Tabana, sedangkan Boi Moi sudah termasuk dalam daftar pencarian orang (DPO).