Desa Dikesare jadi Simpul Pengembangan Pariwisata

berbagi di:
9

Mr.Jerry, warga negara Belanda yang tertarik untuk mengembangkan pariwisata di Lembata saat menyampaikan masukan kepada Pemkab Lembata pada kegiatan dialog di Lewolein Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Lembata, Senin (10/2). Foto; Hiero/VN

 

 
Hiero Bokilia

Pengembangan kawasan wisata Pantai Lewolein di Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur diharapkan menjadi salah satu simpul pengembangan pariwisata Lembata. Selain Lewolein, ada pula Pojok Cinta di Desa Balauring, Pantai Bean, Kecamatan Omesuri dan Pantai Wade yang akan dibangun areal kampung dan tempat pemancingan serta atraksi welok yakni atraksi berburu tradisional.

Demikian dikatakan Bupati Lembata Eliyaser Yentji Sunur saat pertemuan di lokasi wisata Pantai Lewolein, Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Senin (10/2).

Untuk pengembangan area pariwisata Pantai Lewolein, maka semua pedagang kuliner akan direlokasi ke pesisir pantai di lokasi yang telah dibangun pemerintah. Nantinya, masyarakat yang berjualan tidak dipungut sewa los pasar, tetapi sewa los akan dibayar oleh pengunjung yang harga sewanya akan dimasukkan dalam harga ikan yang dijual oleh masyarakat.

“Penjual tidak bayar los, yang bayar adalah pembeli. Inklud pembayaran di harga ikan. Sehingga harga kios jangan dibebankan kepada masyarakat tapi dimasukkan ke harga ikan,” kata Sunur.

Setiap los jualan harus menyiapkan menu agar pengunjung bisa tahu besaran harga makanan yang akan dipesan. Apalagi, ada
pengunjung yang ingin membakar ikan sendiri.

Ia mengakui Lewolein memiliki keunikan seperti penangkapan ikan yang terjadwal. Keunikan ini juga direspons positif Gubernur NTT.
Ia mengarahkan agar desa juga mulai memikirkan pengelolaan pariwisata oleh BUMDes. Model BumDes khusus pariwisata dengan unit-unit pendukung sebagai sumber pendapatan harus mulai didorong, seperti unit parkir, unit pengelolaan sampah tidak saja sampah lokasi pariwisata tapi juga sampah rumah tangga.

Anak-anak muda Lewolein yang belum bekerja untuk bisa bekerja di unit-unit yang ada.

Ia juga mengatakan kawasan Nuhanera juga bisa diatur agar terkoneksi dengan Lewolein.

“Daya tarik Nuhanera, saya sudah bicara banyak dengan Mr. Jerry. Nanti sebagai dive center di Lewoleba dan masyarakat siapkan speed kecil untuk disewakan dengan harga paket,” katanya.

Menurutnya, di sebelah tanjung ada gua dan sebelahnya tempat dive dan snorkeling yang luar biasa. Saat teduh dari atas bisa melihat karang yang besar-besar dan merupakan aset Lewolein.

Kepada pemerintah desa juga diarahkan untuk mengadakan mooring buoy (tambat apung yang digunakan untuk tambatan kapal, dan sebagai marka untuk menjatuhkan jangkar) agar kapal pinisi yang masuk tak perlu Lego jangkar tapi sandar di mooring buoy dan membayar ke desa.

Pinisi yang masuk tidak boleh lagi Lego jangkar karena akan merusak karang laut. Ke depan, lanjutnya, PKK juga dapat berkolaborasi dengan BUMDes dalam melatih ibu-ibu di desa terkait keterampilan membuat bumbu sambal ikan. Sehingga penjual yang menjual ikan bakar dan ubi goreng tinggal membeli sambal produksi ibu-ibu Lewolein.

“Apapun kegiatan pariwisata bekerja sama dengan BUMDes dan mengambil bahan dari BUMDes,” tegas Sunur.

Mr. Jerry, wisatawan asal Belanda mengatakan, ia tinggal di Lewoleba dan menikah dengan perempuan asal Kedang.
Banyak ide pariwisata yang akan dia kembangkan di Lewolein termasuk soal makanan sebagaimana yang disampaikan Bupati karena wisatawan terutama dari Eropa sangat rentan terhadap makanan terbuka seperti ketupat. Jadi harus dipersiapkan dengan baik seperti di Labuan Bajo dengan menyiapkan makanan mentah yang segar di dalam freezer.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lembata, Apolonaris Mayan, mengatakan Lembata masuk dalam zona pengembangan pariwisata Labuan Bajo, Flores, Lembata dan Alor.
Sejumlah destinasi wisata telah dikembangkan di Lembata juga menggelar sejumlah festival yang sudah masuk dalam kalender tahunan.

Menurutnya, salah satu festival yang masuk dalam kalender tahunan adalah Festival Male di Mimbar yang dijadwalkan tahun ini akan digelar 15-16 Februari mendatang.

Turut hadir para kepala desa, pengurus BPD dan BUMDes Dikesare, juga anggota DPRD Lembata Paulus Toon Tukan. Ia mendukung rencana pemerintah Kabupaten Lembata membangun aset wisata di Lewolein yang nantinya diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah desa dan menjadi aset desa.

Sebagai anggota Dewan dari dapil 2, kata Tukan, ia juga mendorong dibangunnya pagar di lokasi wisata itu agar pintu keluar masuknya jelas dan dapat ditata dengan lebih baik untuk memberikan kontribusi pendapatan bagi desa. (lia/E-1)