Di SMPN 11 Kupang, Pembelajaran Luring lebih Efektif

berbagi di:
kepsek smpn11

 

Warmansyah
Kepala SMPN 11 Kupang

 

 

Sinta Tapobali

PEMBELAJARAN luar jaringan (Luring) dinilai lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran menggunakan sistem daring atau online.

Demikian pengakuan dari Kepala SMPN 11 Kupang, Warmansyah kepada VN, Selasa (11/8) pagi.

Sejak adanya pandemi Covid-19, SMPN 11 Kupang telah menerapkan metode pembelajaran luring dan daring berdasarkan keputusan bersama antara pihak sekolah dan orangtua/wali murid serta merujuk pada keputusan empat Menteri, Gubernur dan Walikota.

Pembelajaran daring dilakukan dengan menggunakan aplikasi Google classroom, sedangkan luring dibagi dalam dua cara, yakni mengarahkan siswa datang ke sekolah dan mengambil materi pembelajaran dan mengumpulkan siswa di sejumlah titik berbeda untuk dilakukan proses pembelajaran secara langsung.

Selama proses pembelajaran baik daring maupun luring, dirinya menilai bahwa proses pembelajaran secara daring tidak begitu efektif dikarenakan banyak siswa yang selama mengikuti pembelajaran daring terkesan masih acuh.

Sedangkan untuk pembelajaran secara luring, ia menilai lebih efektif. Dimana dari dua model pembelajaran luring, pembelajaran dengan mengumpulkan siswa di sejumlah titik dan melaksanakan proses pembelajaran secara langsung terlihat lebih efektif karena ada komunikasi dua arah yang dibangun antara siswa dan guru ketimbang siswa datang ke sekolah dan mengambil materi lalu melakukan belajar secara mandiri.

“Masing-masing sistem pembelajaran baik daring maupun luring memiliki sisi negatif dan juga positifnya masing-masing. Tetapi itu kembali kepada muridnya lagi apakah memang dia mempunyai niat untuk belajar atau tidak. Kalau dia punya niat maka sistem
pembelajaran seperti apapun pasti akan memberikan hasil yang baik,” ungkapnya.

 
Siapkan Fasilitas

Ia juga menyampaikan jika Kota Kupang sudah masuk dalam wilayah dengan zona hijau dan Pemkot Kupang membolehkan untuk KBM tatap muka, maka SMPN 11 Kupang siap untuk melaksanakan proses pembelajaran secara tatap muka. Sekolah telah menyiapkan sejumlah fasilitas untuk mengantisipasi penyebaran virus korona di lingkungan sekolah.

“Kami juga sudah siapkan alat pengukur suhu, tempat cuci tangan di sejumlah titik, masker gratis bagi para guru dan siswa. Pada dasarnya kami siap melaksanakan proses KBM tatap muka apabila kota Kupang sudah masuk kembali ke zona hijau. Sekolah ini saya juluki sekolah seribu pintu. Nantinya kami akan bekerja sama dengan para satpam, para guru piket dan para wali kelas untuk setiap harinya berjaga di sejumlah titik di lingkungan sekolah ini agar ketika siswa datang kami arahkan untuk menuju satu pintu sehingga kami dapat mengukur suhu tubuh mereka,” jelasnya menambahkan. (yan/ol)