Diduga Alami Gangguan Mental, Laurensius Putuskan Akhiri Hidupnya

berbagi di:
img-20200915-wa0016

Korban gantung diri Laurensius Natun (43), warga Kampung Hueboni, RT 002, RW 001, Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), saat disemayamkan di rumahnya. 

 

 

Gusty Amsikan

 

 

LAURENSIUS Natun (43), warga Kampung Hueboni, RT 002, RW 001, Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), ditemukan meninggal dunia dalam keadaan tergantung di sudut kamar tidurnya. Korban diketahui mengalami gangguan mental sejak tahun 2016 dan sempat sembuh. Namun, penyakit tersebut kembali kambuh dalam lima hari belakangan ini hingga menyebabkan korban mengakhiri hidupnya. Keluarga korban menerima kematian korban sebagai takdir dan membuat surat penyataan penolakan autopsi serta tidak akan mempermasalahkan kasus tersebut ke pihak kepolisian.

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun media ini menyebutkan, pada Senin (14/9) sekira pukul 21.30 Wita telah ditemukan jasad Laurensius Natun, 43, warga Kampung Hueboni, RT 002, RW 001, Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam keadaan tergantung di sudut kamar tidurnya.

Sekira pukul 17.00 Wita, korban bersama istrinya Rosalia Mael, Eulogius Naben,  Yuliana Natu, Edeltradus Nali, dan Emilius Nasi, sempat makan sirih pinang di depan halaman rumah. Namun korban pamit masuk ke dalam rumah untuk tidur. Setelah korban masuk ke kamar tidur dan menutup pintu, sang istri dan kerabat korban berpindah duduk ke dapur.

Sekira pukul 19.00 Wita datanglah Paulus Naben dari kebun dan menanyakan keberadaan korban kepada sang istri dan kerabat yang lain. Mereka langsung memberitahu bahwa korban tengah beristirahat di dalam kamar. Saat
makan malam telah siap, Paulus Naben hendak membangunkan korban untuk makan, namun sang istri meminta agar tidak mengganggu korban karena korban telah lima malam berturut-turut tidak tidur akibat kambunya penyakit gangguan mental yang ia derita.

Setelah selesai makan malam, Paulus Naben mulai merasa curiga karena tidak mendengar suara dengkuran korban dari dalam kamar. Ketika hendak mengecek keberadaan korban, ternyata kamar korbam terkunci dari dalam. Paulus akhirnya mengambil tangga dan mengecek ke dalam kamar. Ia sangat terkejut ketika mendapati korban sudah tergantung di sudut kamar tidur. Paulus spontan berteriak memberitahu para kerabatnya bahwa korban sudah gantung diri.

Mendengar hal itu, istri korban dan para kerabat yang lain langsung berlarian dari arah dapur menuju ke dalam rumah dan menendang pintu kamar korban hingga jebol. Menyaksikan korban tidak bernyawa lagi dalam keadaan tergantung, mereka langsung berupaya menurunkan korban dengan cara  memotong tali ikatan pada leher korban. Setelah itu korban dibopong ke kamar depan untuk dibaringkan. Peristiwa tersebut dilaporkan ke kepala desa dan kepala desa menelepon anggota Polsek Miomaffo Barat memberitahukan  perihal kejadian tersebut.

Kapolsek Miomaffo Barat, Yadokus Feka, ketika dikonfirmasi media ini Selasa (15/9), membenarkan pihaknya menerima laporan dari masyarakat terkait peristiwa gantung diri yang dialami korban Laurensius Natun, 43, warga Kampung Hueboni, RT 002, RW 001, Desa Eban, Kecamatan Miomaffo Barat. Setelah menerima laporan, pihaknya langsung turun ke TKP untuk mengecek keadaan korban dan melakukan penyelidikan. Ketika tiba di TKP,  korban sementara dibaringkan di tempat tidur kamar depan rumah korban.

Menurut keterangan istri korban, Rosalia Mael dan keluarga besar bahwa korban pada tahun 2016, 2019, dan di tambah lima hari terakhir mengalami gangguan mental. Kuat dugaan korban mengakhiri hidupnya sendiri akibat gangguan mental yang dialaminya.

“Keluarga korban tidak mempermasalahkan kematian korban dan menerima kematian korban sebagai jalan hidup korban. Istri korban beserta kelurga  korban membuat surat pernyataan penolakan autopsi dan tidak akan mempermasalahkan masalah tersebut ke pihak kepolisian mengetahui kepala desa setempat,”pungkasnya. (Yan/ol)