Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan Dan Kepolisian Tak Bergeming Tangani Aksi Pembalakan Liar Di TTU

berbagi di:
img-20170724-wa0004

Gusty Amsikan

 

 

 

Aksi pembalakan liar pada sejumlah lokasi hutan di wilayah sekitar Kota Kefamenanu semakin mengkhawatirkan. Ironisnya, aksi penjarahan hutan oleh para pelaku seolah tak membuat ¬†Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan Wilayah Kabupaten TTU pihak kepolisian bergeming. Pasalnya, praktek pembalakan liar yang terjadi pada lokasi Hutan Maol dan Hutan Oe’menu, luput dari perhatian kedua lembaga tersebut. Ribuan pohon Sonokeling yang menjadi incaran para pelaku pada kedua lokasi hutan tersebut terus diantarpulaukan. Masyarakat yang bermukim disekitar lokasi hutan tak banyak berbuat apa-apa meski hutan mereka diporakporandakan.

 

Pantauan VN di lokasi pembalakan liar hutan Maol, Kelurahan Tubuhue Kecamatan Kota Kefamenanu dan hutan Oe’menu Kelurahan Aplasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, ratusan pohon jenis Sonokeling dibabat habis para pelaku. Aksi pembalakan berlangsung siang maupun malam. Meskipun demikan, tak ada pihak Kepolisian dan Dinas Kehutanan terjun ke lokasi untuk menertibkan praktik penjarahan hutan tersebut. Usai membabat para pelaku mengangkut menggunakan truk secara gelondongan dan menampung pada stock file CV. Inrichi, yang berlokasi di tengah kota, Jalan Ahmad Yani, RT 38, RW 07, Kelurahan Kefa Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu.

 

Sejumlah warga Maol yang enggan nama mereka dikorankan kepada VN menuturkan, aksi pembalakan berlangsung setiap hari sejak beberapa bulan lalu. Jenis kayu yang diincar para pelaku pembalakan adalah kayu jenis Sonokeling. Sejak awal mula praktik pembalakan liar berlangsung, pihak Dinas Kehutanan dan Kepolisian sempat menahan sejumlah barang bukti. Namun, berselang beberapa hari kemudian, aksi pembalakan kembali berlangsung bebas.

 

Aktivitas para pelaku berlangsung terbuka. Suara mesin sensor terdengar ke mana-mana, bahkan nyaris mengusai penduduk kota. Ironisnya, aktivitas para pelaku tak membuat Kepolisian dan Dinas Kehutanan, bergeming menertibkan para pelaku. Kendati, aksi tersebut merupakan bentuk kejahatan terhadap lingkungan. Pihak kepolisian dan dinas terkait seolah dibungkam. Kuat dugaan aktivitas pembalakan tersebut dibekingi oknum pejabat tinggi kepolisian.

 

“Di lokasi hutan Maol, jenis pohon Sonokeling hampir habis. Aktivitas di sana berlangsung berbulan-bulan. Sekarang para pelaku pindah lagi ke Oe’menu. Masyarakat tidak bisa berbuat banyak. Kita tidak ada kekuatan untuk menghentikan mereka. Polisi dan Dinas Kehutanan saja tidak tertibkan mereka? Padahal suara mesin sensor terdengar sampai ke kota. Polisi dan Dinas Kehutanan tahu ada pembalakan liar di kedua hutan ini. Parahnya, tidak ada penindakan. Kuat dugaan kegiatan ini ada orang kuat di belakang mereka,”pungkasnya.