Dishub Tertibkan Mobil Travel dan Bus Di Oesapa

berbagi di:
img-20200114-wa0048

 

 

 

 

Semua travel liar dan bus antar kota dalam provinsi yang telah menjadikan jalan Timor Raya Oesapa, Kota Kupang sebagai terminal liar sejak tahun 2007 telah ditertibkan tim gabungan Dinas Perhubungan Kota, Dishub Provinsi NTT, Polsek Kelapa Lima dan Lantas Polresta.

Penertiban dilakuma  sejak Senin 13 Januari hingga 40 hari ke depan.

Kepala Wilayah I UPTD Perhubungan Gusti Sigasare kepada VN, Selasa (14/) mengatakan operasi dilakukan travel dan bus menyebabkan kemacetan dan kerugian dari sisi retribusi sejak 2007.

Sejak Senin kemarin, Dinas Perhubungan baik Kota Kupang dan Dishub Provinsi NTT telah menderek dua mobil travel dan hari ini Selasa satu mobil travel liar dibawa ke dinas karena mobil-mobil tersebut tidak berizin. Kita sudah pendekatan sejak lama agar pemilik mobil bisa mengurus izin tapi tak ada respon baik hingga saat ini.

‘Ini jalan negara, maka Balai Jalan telah memasang plang supaya tidak boleh ada mobil parkir di sepanjang jalan Oesapa sambil menanti penumpang. Tetapi, tidak ada yang mau mendengar makanya jalan ini dijadikan sebagai terminal bayangan. Maka dalam rapat terbatas dengan gubernur, pada 2019 akhir diperintahkan kepada kepala dinas untuk ditertibkan semua mobil travel dan bus-bus yang membuat macet are ini,” jelas Gusti.

Akibat travel liar menumpuk di Oesapa maka penumpang beralih dari terminal Oebobo dan menuju Oesapa. Karena itu, bus-bus Malaka, Atambua, Kefa, Soe juga menumpuk di Oesapa. Makanya terminal Oebobo sepi karena tidak dimanfaatkan.

Gusti kembali mengatakan travel liar yang tidak berizin dan mengambil penumpang di terminal bayangan Oesapa jumlahnya mencapai 300 mobil.

“Perintah gubernur semua travel dan bus-bus itu yang menyebabkan kemacetan dan kerugian harus ditertibkan karena itu pekerjaan rumah yang menjadi catatan merah oleh gubernur. Padahal izin bagi mobil itu per tahun hanya Rp 300.000,” jelasnya.

Menindaklanjuti instruksi gubernur, maka Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Isyak Nuka memerintahkan para personel dinas tersebut untuk operasi penertiban selama 40 hari ke depan.

Namun, kemarin malam Isyak dan jajarannya kembali meninjau lokasi itu sampai sore dan ternyata banyak travel liar kembali beroperasi pada malam hari.

‘Karena banyak yang melawan maka perintah kadis harus operasi hingga malam,” tandas Gusti.

Ia menambahkan rupanya para supir travel liar cukup lantang melawan karena para pemilik travel juga banyak dari anggota Polri maupun TNI aktif.

“Makanya para supir itu melawan dan tak mau masuk terminal karena merasa ada perlindungan dari pemilik mobil yang adalah anggota Polri-TNI aktif itu,’ jelas Gusti.

Menurut Gusty, ratusan mobil travel liar  tidak mau mengurus surat izin trayek dan plat mobil mereka itu plat hitam bukan kuning. Akibatnya pemerintah dirugikan 30 juta per tahun atau Rp 390.000.000 selama 13 tahun dari izin trayek saja.

“Selain itu terminal Oebobo dan Noelbaki harus kembali hidup,” pungkas Gusti.

Parkir Di Rumah Warga

Usai wawancara dengan UPTD Wilayah 1 seorang supir travel liar yang mengaku bernama Selus Seran asal Malaka menawarkan jasa tranportasi travelnya ke VN dengan santai.

“Om Malaka ko?,

“Tawar jasa tapi mobilnya dimana?,”   ujar VN merespon.

Ia mengatakan sedang memarkirkan mobilnya di rumah warga di Kampung Nelayan.

“Bukan hanya saya tapi banyak mobil yang parkir di sana. Coba kaka lihat di belakang saja. Karena pelanggan kami sudah tahu kami di sini. Saya dan sopir lainnya menyembunyikan mobil kami di rumah warga maupun badan jalan di seputaran Kampung Nelayan Oesapa,” ujarnya.

Ia mengaku mobil travel liar bisa menghasilkan Rp 800.000 pulang pergi ke Malaka.

“Jasa yang kami tawarkan ke penumpang tujuan Malaka per orang Rp 125.000. Maka mobil saya muat 4 orang pulang-pergi Malaka dapat bersih Rp 800.000. Jadi bos untung kami juga demikian,” tandas Selus.

Pendapatan yang cukup menggiurkan membuat banyak supir mulai kredit kendaraan. Sebulan pendapatan bisa mencapai Rp 24 juta.

Ia juga tanpa canggung mengaku pemilik mobil atau bosnya adalah seorang TNI.

Ia menegaskan akan tetap beroperasi dan parkir di Kampung Nelayan karena ia butuh uang untuk bertahan hidup.

Berdasarkan informasi tersebut, VN menelusuro Kampung Nelayan dan tampak banyak mobil travel liar yang parkir di kos-kosan. Mobil yang VN temukan mencapai 10 mobil. Semua mobil itu berplat hitam dengan berbagai merek.

Menumpuknya mobil travel itu menghalangi jalan masuk ke rumah warga dan garasi.

Salah satu warga, Aris yang berjualan di seputaran SD GMIT Oesapa Kampung Nelayan mengaku kesal dengan kondisi tersebut. Ia berharap para supir tidak lagi parkir di lingkungan perumaban.(vn/ol)