DLHK Kota Kupang Sesalkan Warga Masih Buang Bangkai Binatang di Jalur 40

berbagi di:
img-20200621-wa0022

 

 

 

Yapi Manuleus

Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang menyesalkan tindakan warga Kota Kupang yang membuang bangkai hewan seperti kulit sapi di ruas jalur 40 wilayah Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Kulit sapi yang dibuang menimbulkan aroma tak sedap

“Memang patut disesalkan. Ke depan kita akan panggil semua lurah yang terkait langsung wilayah jalur 40, dan kita akan bicara tentang penanganannya,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan kota Kupang Yeri Padji Kana saat dikonfirmasi VN, Minggu (21/6).

Pihaknya juga akan melibatkan Pol PP untuk menegakan Perda sehingga warga Kota Kupang tidak lagi membuang sampah sembarangan.
“Kita akan libatkan Pol PP dalam penegakkan perda agar kita bisa mendapatkan solusinya. Apakah kita menempatkan container atau membuat tempat pembuangan sampah yang representatif. Sehinggga kalau sampah dibuang ke sana bisa lebih teratur dan mudah penanganannya dan kita akan awasi dan melakukan tindakan hukum berupa sanksi yang tegas bagi yang melanggarnya,” ujarnya.

Ia berharap agar warga Kota Kupang bisa punya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.

Pantauan VN di ruas jalur 40 pada Minggu (21/6) tampak kulit sapi yang terlihat berserakan bersama sampah plastik lain. Bahkan sebelumnya banyak warga yang juga membuang bangkai binatang lain seperti babi mati di lokasi tersebut.

Lokasi itu berada dekat dengan perbatasan antara Kelurahan Kolhua dan Kelurahan Bello.

Salah satu warga sekitar yang sempat diwawancarai VN mengaku tidak mengetahui siapa yang membuang kulit sapi tersebut.

“Biasa kalau ada yang lewat di sini mereka yang buang ini sampah semua. Jadi ini kulit sapi juga pasti orang dari luar yang bawa sampai di sini langsung buang karena memang kalau mereka buang tidak ada yang lihat mereka di sini,” kata warga yang enggan namanya dikorankan.

Sebelumnya Lurah Bello Robinson Lona mengaku tidak ada satu pun tempat pembuangan sampah di wilayahnya, sehingga sulit untuk mengantisipasi sampah.

“Kita di sini tidak ada satu tempat sampah juga. Jadi sulit, sekarang kita imbau warga untuk buang sampah pada tempatnya. Tapi warga mau buang sampah di mana,” ungkapnya. (bev/ol)