Dua Kabupaten di NTT Kantongi Proteksi Tenun Ikat

berbagi di:
img-20210306-wa0048

 

Mince Ledo, salah satu penenun di Rumah Tenun NTT ‘Ina Ndao’ sedang menenun pada Agustus lalu.

 

 

 
Putra Bali Mula

 

 

DINAS Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah mengantongi indikasi geografis untuk dua kabupaten agar tenun ikatnya terproteksi. Dua kabupaten ini antara lain adalah Sikka dan Alor.

Demikian disampaikan oleh Kepala Pengembangan Sumber Daya Industri Disperindag NTT, Bernard Haning, saat dihubungi VN, Sabtu (6/3).

Tidak hanya pada opersional dan pemasaran produk UMKM dan industri khas NTT, Disperindag NTT saat ini mengupayakan untuk mendapatkan hak kekayaan intelektual atau HAKI dan indikasi geografis.

“Proteksi dengan Hak Kekayaan Intelektual,” ungkapnya.

Disperindag NTT sudah melakukan langkah-langkah proteksi terhadap delapan Kabupaten untuk mendapatkan indikasi geografis. Sikka dan Alor sudah mengantongi indikasi geografis dan enam kabupaten lainnya sudah didaftarkan di Kementerian Hukum dan HAM.

“Proteksi tenun ikat ini sangat penting sehingga ke depan tidak ditiru tenun ikat kita,” lanjut dia.

Terkait proteksi inipun disampaikan oleh Julie Sutrisno Laiskodat pada Rabu lalu (3/3) di Dekranasda NTT saat mengikuti Exotic Tenun Fest yang diselenggarakan Bank Indonesia.

Ia meminta Bank Indonesia Perwakilan NTT juga ikut mendukung proteksi terhadap tenun-tenun NTT agar tidak diplagiasi daerah lainnya.

“Terlalu banyak motif tenun ikat di NTT dan tidak bisa kita berupaya sendiri supaya semuanya terlindungi hak kekayaan intelektualnya. Ini warisan nenek moyang kita di NTT,” ujar Julie. (Yan/ol)