Cerita Penggagas Lakoat Kujawas Dicky Senda dari New York, Kenang Guru Terbaik (2)

- Jumat, 24 Juni 2022 | 19:08 WIB
Dicky Senda penggagas Komunitas Lakoat Kujawas di saat foto di depan Gedung PBB New York , Amerika Serikat. (Dok. Pribadi Dicky Senda)
Dicky Senda penggagas Komunitas Lakoat Kujawas di saat foto di depan Gedung PBB New York , Amerika Serikat. (Dok. Pribadi Dicky Senda)
 
NEWYORK, VICTORYNEWS--Tiba di New York, Dicky Senda, pengagas Komunitas Lakoat Kujawas terkenang akan guru terbaik saat duduk di bangku SD Yaswari 3 Kapan, Kabupaten TTS, NTT.
 
Dikutip victorynews.id dari akun Facebook Dicky Senda, ia mengaku terkenang akan sosok sang guru saat bangun dari tidur di hotel pada 13 Juni 2022 lalu.
 
Ingatan itu terbesit saat tahu bahwa hotel tempat ia menginap berada persis di deoan gedung PBB di UN Plaza.
 
Gedung yang sudah pernah ia lihat lewat gambar saat duduk di bangku SD.
 
Tahun 90-an, kata Dicky, pelajaran pengetahuan umum, peta buta, geografi dan sejarah menjadi pelajaran yang paling ia suka.
 
"Itu pengetahuan tentang manusia dan tempat di berbagai belahan dunia, hal-hal yang sangat Beta (Saya) sukai," tulisnya.
 
Ia teringat Almarhum Benyamin A Seran, guru terbaik yang menurutnya bisa membawa imajinasinya ke tempat-tempat yang cuma bisa ia dengar sejarah dan gambar dari buku dan peta.
 
"Bukan hanya imajinasi tapi juga mimpi. Suatu saat bisa ke tempat-tempat yang Beta (Saya) cuma lihat di buku-buku pelajaran. Beberapa sudah terpenuhi, salah satunya Big Ben di London. Tahun 2018 berkesempatan keliling UK dan presentasi di dalam UK Parliament ini.
 
Sementara Gedung PBB ini salah satunya yang Beta ingat dari begitu banyak hal menarik yang muncul dalam kelas Pak Min Seran," jelas Dicky.
 
Dicky tak menyangka 25 tahun kemudian ia bisa berdiri di depan gedung PBB berlantai 39 yang dibangun tahun 1948-1952 itu.
 
"Untuk Pak Min Seran dan semua guru yang turut mengisi kepala Beta dengan banyak gambar, cerita, imajinasi dan mimpi, banyak terima kasih. Karena itulah Beta berani punya mimpi besar. Mimpi yang selalu Beta rawat sejak kecil," ungkapnya.
 
 
Begitulah seharusnya guru, mampu menghidupkan ruang imajinasi anak didiknya.
 
Mampu menumbuhkan ruang-ruang mimpi tanpa batasbatas di kepala muridnya.
 
Karena selanjutnya, biar jadi tugas alam semesta dan penciptanya.***

Editor: Beverly Rambu

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Indonesia Kirim Bantuan ke Pakistan, Apa Saja?

Selasa, 27 September 2022 | 05:45 WIB

'Lembaran Baru' Indonesia dan Sudan Selatan

Kamis, 22 September 2022 | 05:30 WIB

Cristiano Ronaldo Raih Penghargaan Spesial FIFA

Rabu, 21 September 2022 | 13:42 WIB

Rusia Siap Penuhi Permintaan Minyak Indonesia

Senin, 19 September 2022 | 19:20 WIB
X