Editorial: Antara Pujian dan Kritikan

berbagi di:
ilustrasi media

 

 

Pemimpin idealnya pencipta sejarah. Ia tak hanya menyejarah. Namun lahir darinya sejarah. Sejarah perubahan baik tepatnya. Darinya lahir gebrakan dan gerakan-gerakan pembaharuan, kebaruan, dan inovasi. Tak hanya berkesan inovatif. Namun memang berwujud gerakan-gerakan mengubah keadaan yang riil.

Rasa-rasanya Jefri Riwu Kore, Wali Kota Kupang, berancang-ancang menyatakan itu. Blusukan dan sidak-sidak ke lembaga-lembaga Pemkot Kupang tengah menghangat. Pertanda awal bahwa akan ada kerja-kerja keras bangun Kota Karang? Itu pertanyaan harapan bahwa akan segera tiba arahan-arahan baru yang menyegarkan kehidupan kota ini.

Blusukan menjadi gaya yang melekat pada Pak Wali Kota itu sudah tepat. Itu baik dan menarik. Lebih hebat jika akan membuahkan perubahan-perubahan radikal bahwa era Jefri-Herman adalah era kehidupan. Dari kota mati menjadi kota hidup. Dari kota semrawut menjadi kota tertata rapi. Dari pelayanan pemerintahan yang pas-pasan menjadi pelayanan yang prima.

Dari kota pelontos tanpa pohon menjadi kota rindang. Dari kota berbangunan serampangan menjadi kota berdesain yang bagus. Dari kota jamur ruko-ruko menjadi kota tertib membangun bangunan. Dari kota kurang air menjadi kota kelimpahan air. Dari kota gelap menjadi kota terang. Dan seterusnya demikian. Itu semua asa yang rakyat tempatkan di pundak kedua pemimpin Pemkot tersebut.

Menariknya lagi, Pak Wali Kota juga “blusukan” ke media-media lokal. Itu sehat bagi pemerintah. Adakah itu sinyal akan lahirnya pemerintahan yang transparan? Ya, tentu demikian. Lagi-lagi, itu harapan yang sudah lama ditunggu-tunggu. Itu termuat dalam pesan pendek Pak Jefri di depan kru VN di ruang rapat (Senin, 02/10) saat kunjungannya bahwa Pemkot butuh dikritik. Tidaklah menyehatkan jika Pemkot dipuja dan dipuji terus.

Media adalah sahabat dalam menjalankan jabatan-jabatan negara. Kadang ia datang bagai lalat pewarta kepada pemerintah bahwa ada “barang-barang busuk” yang harus segera dibersihkan.

Ia kadang datang bagai macan dan anjing penggonggong yang mewartakan hal-hal publik yang sedang bermasalah. Pun media menjadi burung pewarta karya-karya pemerintah. Mari mengubah, bukan mengumbar janji!