Editorial: Anti Pendidikan

berbagi di:
img-20190513-wa0010

Sekolah bukan lagi soal angka dalam ijazah. Ia penggalian potensi secara total. Mental, keahlian, etos kerja dan kepribadian. Anti-education dari Friedrich Nietzsche abad 19 mendorong pembaruan pendidikan Jerman. Indonesia butuh itu, apalagi NTT.

 
Dunia berubah total. Bergulir super cepat. Cepat merombak tatanan di semua lini. Teknologi informasi bagai penyihir. Pengubah keadaan secepat kilat, berakurasi dan presisi yang tak diragukan. Bim salabim, jadilah dunia yang anda, saya dan kita diami kini. Dunia penuh kejutan. Kejutan masa depan-The Future Shock- kata Toffler. Namun, masa depan itu adalah kini dan di sini.

Indonesia wajib tahu kejutan itu. Harus membacanya. Pahami gelagatnya. Apalagi NTT yang tengah gembira mengabarkan hasil ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Presentasi kelulusan membaik. Angka di atas kertas menuju unggul. Namun, kejutan revolusi pendidikan tengah mengepung. Mengapa? Maknailah kisah mahasiswa jebolan dari negara maju bunuh diri karena tak kunjung mendapat kerja.

Lalu pikirkanlah bagaimana gedung-gedung sekolah segera berdiri tegak bagai museum. Mereka simbol-simbol sistem kuno, tak terpakai dan tak laku. Secarik kertas ijazah kehilangan daya magis. Apalagi angka-angka di dalamnya. Jika Taylor Pierson bilang ini era The End of Jobs, maka sesungguhnya pemicunya adalah The End of Education; berakhirnya pendidikan konvensional.

Betulkah? Buktinya? Belasan perusahaan raksasa dunia merekrut karyawan tak perlu ijazah. Dari Google, Apple, IBM hingga yang lainnya. Tak ditanya ijazah, apalagi angka dan nilai kelulusan. Mereka hanya membutuhkan hadirnya manusia bermutu dan berpotensi. Otak berfungsi baik. Mental dan berkarakter bagus. Keahlian memadai, dan seterusnya.

Kejutan itu menghantam gelar doktor, magister dan sarjana. Put your title behind! I need your character, skill and competence! Kejutan, bukan? Sekolah formal kini ditabrak kejutan itu hingga roboh. Runtuh dan mungkin tak berpeluang dibangun kembali. Dibangun pun sudah tak relevan. Sekolah kini adalah praktek dan praktek. Sekolah di sini adalah pelatihan dan pelatihan.

Praktek dan pelatihan di rumah, pantai, hotel, gunung, sungai, taman-taman dan seterusnya via media teknologi informasi. Sekolah bukan lagi soal angka dalam ijazah. Ia penggalian potensi secara total. Mental, keahlian, etos kerja dan kepribadian. Anti-Education dari Friedrich Nietzsche abad 19 mendorong pembaruan dunia pendidikan Jerman yang telah usang. Indonesia butuh itu, apalagi NTT.