Editorial : Denyut Pendidikan di Mabar

berbagi di:
Inilah kondisi ruang kelas SND Nanga Boleng di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Beberapa waktu lalu ruang kelas lain ambruk karena hujan angin. Foto: Gerasimos Satria

Inilah kondisi ruang kelas SND Nanga Boleng di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Beberapa waktu lalu ruang kelas lain ambruk karena hujan angin. Foto: Gerasimos Satria/VN

 

 

JantungĀ kemajuan hanya akan berdenyut menghidupkan jika pendidikan dipompa secara serius. Satu ukuran pentingnya adalah infrastruktur seperti gedung dan fasilitas yang memadai. Bila infrastruktur tidak diurus, maka bicara kualitas pendidikan hanyalah omong kosong. Demikian halnya kisah SDN Boleng di Manggarai Barat.

SDN yang gedungnya dibangun secara swadaya oleh masyarakat itu roboh rata tanah saat hujan lebat disertai angin, beberapa hari lalu. Tiga kelas rusak total, menyisakan tiga ruang kelas lain yang bangunannya sudah miring dan tak bisa lagi digunakan karena membahayakan keselamatan para murid dan guru-guru.

Gedung sekolah roboh, namun semangat belajar-mengajar tidak ambruk. Rumah-rumah warga di seputar sekolah dijadikan tempat belajar-mengajar sementara sambil menunggu perbaikan gedung sekolah, entah sampai kapan.

Mestinya pemerintah daerah (pemda) bergerak cepat. Bukan semata soal SDN Boleng itu. Namun, lebih penting soal pelayanan pendidikan di seluruh Mabar. Bencana ambruknya gedung SDN Boleng tak boleh meluas menjadi bencana pendidikan di tanah Mabar.

Apalagi, fakta SDN Boleng itu sendiri menyimpan kisah buruk soal tugas dan hancurnya kerja serta pelayanan negara lewat pemda. Gedung sekolah yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat, yang kemudian distatuskan pemerintah sebagai sekolah negeri adalah bukti terang tentang absennya negara dalam mengurus pendidikan dasar.

Tak butuh bukti lebih banyak, selain soal kecil yakni urusan membangun gedung. Tak hanya di Mabar, hal serupa banyak terjadi di kabupaten-kabupaten lain. Bahkan di Kota Kupang, ibukota provinsi.

Ini pelayanan dasar. Sebab, pendidikan itu lantai dasar kemajuan atau pun kemunduran bagi sebuah daerah atau bangsa. Maju jika otak rakyat terisi pengetahuan dan informasi. Tak ada negara maju yang mayoritas masyarakatnya bodoh tak berpendidikan. Sebaliknya, tak ada negara miskin yang mayoritas masyarakatnya cerdas. Dunia sudah membuktikan itu.

Semua di NTT harus berpedoman pada rumus itu. Pendidikan adalah jantung pembangunan. Pembangunan berdenyut (baca: hidup) jika pendidikan yang mendongkrak SDM membaik. Jantung pembangunan tak berdetak jika masyarakat ber-SDM jongkok. Lebih jauh lagi, bisa saja kita mengamini bahwa akar kemiskinan adalah kebodohan. Sementara kebodohan adalah produk dari kebijakan-kebijakan yang bodoh pula; kebijakan yang tidak tepat sasaran.

Semoga Pemda Mabar bisa memetik pesan penting dari ambruknya SDN Boleng tersebut. Bahwa negara belum hadir dalam mencerdaskan daerah ini. SDN Boleng adalah sekolah negeri, yang harusnya menjadi menjadi wajah pelayanan pemerintah. Jadi, mari kita mendorongg agar Pemda memperbaiki wajah pelayanan itu yang masih kurang bagus.