Editorial : Dicari Pemimpin Inovatif-Kreatif

berbagi di:
Ilustrasi pilkada NTT

 

 
Dibutuhkan pemimpin inovatif, kreatif daan negarawan, bukan yang mati gaya, mati daya dan politisi asal-asalan.

Birokrasi kusam mentok pada rumus pengelolaan keuangan: terima lalu belanja. Terima dari negara, lalu dibelanjakan untuk pegawai dan publik. Uang sedikit, sedikit pula pembangunan. Kerja asal jadi dan asal-asalan. Tak ada inovasi, pun kreativitas. Ia mirip orang gajian; terima, belanja lalu habis. Ia tergantung total pada gajian. Selalu minus ide soal act and think out of the box.

Soal itu dikupas tuntas dalam Dialog Publik RRI Kupang pada Sabtu malam (30/09) yang diselenggarakan DPP PKPI NTT. Menariknya, hadir dalam diskusi tersebut lima bakal calon gubernur/wakil gubernur yang siap bertarung di Pilgub 2018. Pertanyaan pendeknya adalah: mengapa kemiskinan di NTT malah naik tangga dari 22,01 persen ke 22,09 persen saat APBD digemukkan dari Rp 2 triliun lebih menjadi Rp 4,7 triliun?

Itu pertanyaan wajib. Wajib dijawab Pemprov dan wajib pula dijawab oleh calon-calon pemimpin yang hendak bertarung di 2018. Realita yang juga memecut para calon; mengapa mereka maju, apa yang harus dilakukan, dan dimana letak permasalahannya. Ini harus ditemukan. Apakah jumlah uang APBD kurang?

Bangun daerah tanpa (uang) APBD memang tak mungkin. Ia butuh dana banyak agar bisa berjalan. Namun, uang bukanlah segalanya. Uang bukan sumber semua perubahan, baik kemajuan maupun kemunduran sebuah daerah. Uang sedikit namun salah kelolah bahkan menjadi sumber utama masalah. Apalagi jika uang banyak salah dikelolah, itu bermasalah besar.

Kondisi NTT perlu ditengok dari sudut itu. Apakah jumlah dana APBD menjadi bahan utama dalam mengkaji kelambanan perkembangan pembangunannya? Apakah dana APBD yang terus meningkat dari tahun ke tahun masih belum cukup untuk menggenjot pembangunannya? Ataukah ada faktor kepemimpinan menjadi akar masalah kelambanan laju perubahan itu?

Beberapa pertanyaan itu cocok bagi NTT. Tak hanya bagi pemerintahan yang sedang aktif, tetapi juga bagi para cagub/cawagub yang hendak mengambil alih kekuasaan. Membongkar isi masalah ini lebih dini lebih baik. Sebab, masalah utama NTT terkini adalah kepemimpinan. Apalagi dibahas menjelang Pilgub NTT 2018 yang sudah di depan mata. Dibutuhkan pemimpin inovatif, kreatif daan negarawan, bukan yang mati gaya, mati daya dan politisi asal-asalan. Semoga!