Editorial: Jalan Cerdas Konvensi Capres

berbagi di:
nasdem-gelar-konvensi-calon-presiden-2024

Foto: merdeka.com

 

Kita tahu, Partai NasDem bukanlah yang pertama menyelenggarakan konvensi calon presiden. Golkar telah melakukannya jelang Pilpres 2004 dan Partai Demokrat setahun sebelum Pilpres 2014.

 

 

Pemimpin nasional sejatinya bukan sekadar orang yang dicalonkan parpol lalu disodorkan ke rakyat untuk dicoblos saat pemilu. Idealnya, sedari awal, penentuan calon pemimpin dilakukan oleh rakyat, bukan oleh parpol.

Fakta di negeri ini jauh dari ideal. Hampir di setiap kontestasi pemilu, penentuan calon pemimpin masih cenderung bersifat elitis. Hanya segelintir pihak di lingkaran elite partai yang boleh dan bisa menunjuk calon pemimpin, entah itu presiden ataupun kepala daerah (gubernur dan wali kota/bupati).

Aspirasi publik terabaikan. Suara rakyat hanya dibutuhkan untuk memilih calon yang sudah ditentukan. Tidak ada keterlibatan sejak awal. Partisipasi publik baru dibuka di saat-saat akhir ketika ruang-ruang gelap politik transaksional sudah lebih dahulu menguasai panggung rekrutmen pemimpin.

Eksklusivitas parpol boleh dikatakan menjadi biang keladinya. Jangankan membuka diri dalam hal rekrutmen calon pemimpin, banyak parpol di Indonesia bahkan masih gagap menerima pemikiran, pandangan, apalagi ideologi politik dari sisi yang lain.

Dalam situasi seperti itu, gagasan konvensi yang dilontarkan Partai NasDem untuk rekrutmen calon presiden 2024 bolehlah menjadi semacam penyejuk. Partai restorasi yang baru saja merayakan usia 9 tahun itu berencana melakukan konvensi calon presiden 2024 pada 2022.

Spirit inklusivitas tentu saja menjadi landasan gagasan tersebut. Inklusif bukan saja membuka diri terhadap pemikiran dan ide dari luar, melainkan dalam konteks rekrutmen pemimpin, juga bersedia membuka ruang yang sama kepada anak bangsa untuk menjadi calon pemimpin.

Pun, dengan menyelenggarakan konvensi pada 2022, artinya ada proses sekitar dua tahun sebelum Pemilihan Presiden 2024, yang semestinya dapat dimanfaatkan betul untuk menghasilkan calon-calon pemimpin yang autentik sekaligus berkualitas. Ini barangkali sekaligus untuk menepis potensi kekhawatiran sejumlah pihak bahwa konvensi tersebut hanya demi kepentingan pencitraan dan mendongkrak elektabilitas partai.

Kita tahu, Partai NasDem bukanlah yang pertama menyelenggarakan konvensi calon presiden. Golkar telah melakukannya jelang Pilpres 2004 dan Partai Demokrat setahun sebelum Pilpres 2014.

Namun, mereka ‘bermasalah’ dalam konsistensi. Keduanya hanya menggelar konvensi satu kali, padahal bila itu disepakati sebagai pilihan cerdas untuk menggali calon-calon pemimpin bangsa, konvensi seharusnya dilakukan dalam setiap pemilu.

Ya, ketika parpol masih saja sulit menyemai kadernya menjadi calon pemimpin, konvensi ialah langkah paling cerdas dan elegan.

Kita berharap tak hanya NasDem yang merencanakannya hari ini. Semestinya semua partai mempertimbangkan jalan konvensi untuk memperluas basis perekrutan calon presiden untuk Pemilu 2024.