Editorial: Kanker dan Pandemi

berbagi di:
5e38e548ddbc4_kebiasaan-ini-bisa-jadi-pemicu-kanker

Sesungguhnya dalam bungkus kolektivitas, semua tindakan kita punya arti penting. Tujuannya tentu saja satu, yakni dunia yang lebih sehat. Tanpa kanker. Tanpa korona.

 

 

 

Bagi para penyintas kanker, wabah Covid-19 ibarat menggandakan nestapa. Hal ini seperti peribahasa lama yang mengatakan ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Selain ancaman kanker itu, mereka juga dalam posisi amat rawan menghadapi ancaman penularan virus korona.

Pandemi juga menyebabkan beban di sistem kesehatan kita semakin berat. Ini berdampak besar pada penanganan kanker secara umum. Saat ini saja, pembatasan-pembatasan yang mesti dilakukan demi meminimalkan penyebaran virus tak hanya berimpak pada proses pengobatan, tetapi juga menurunkan tingkat screening atau deteksi dini kanker.

Padahal, deteksi dini amatlah penting. Men­deteksi dini penyakit kanker dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Dari sisi biaya pun, deteksi dini pun tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan besarnya biaya perawatan. Artinya, penurunan tingkat deteksi dini kanker akibat pandemi ini berisiko meningkatkan jumlah kasus kanker di masa depan.

Kemungkinan itu tentu sangat mencemaskan. Saat ini saja, penyakit kanker sudah tercatat sebagai salah satu penyebab kematian yang tinggi di dunia dan di Indonesia. Berdasarkan Globocan 2020, diperkirakan 1 dari 5 orang menderita kanker di dunia.

Dalam situasi keprihatinan itulah peringatan Hari Kanker Sedunia tahun ini mesti dimaknai. Harus diakui, pagebluk covid-19 seakan telah memaksa negara menganaktirikan penyakit lain, termasuk penyakit tidak menular namun mematikan seperti kanker. Fokus menangani pandemi memang harus dilakukan, tapi pada saat yang sama semestinya tak sampai membuat penyakit lain menjadi terabaikan.

Kita khawatir bila negara dan pemerintah masih terus kewalahan mengendalikan pandemi, tingkat pelayanan terhadap pasien penyakit-penyakit itu juga semakin menurun.

Di masa pandemi, persoalan yang dihadapi penyintas kanker tidak bisa diatasi bila negara tidak keluar dari upaya yang business as usual. Kita butuh cara dan terobosan yang luar biasa. Sebagai contoh, bila rumah sakit atau fasilitas kesehatan dianggap salah satu pusat penularan korona, semestinya ada konsep atau tata laksana yang memungkinkan pasien kanker tidak perlu datang ke rumah sakit.

Dalam kerangka berpikir yang lebih maju, seperti yang pernah dipaparkan Ketua Cancer Information and Support Center Aryanthi Baramuli Putri, suara penderita kanker semestinya juga dilibatkan dalam proses pembuatan kebijakan kesehatan di masa pandemi. Dengan begitu, di satu sisi tidak ada yang merasa dilupakan, di sisi lain kebijakan yang dihasilkan juga lebih holistik dan komprehensif.

Terlepas dari itu, peringatan kali ini sesungguhnya penting sebagai proses refleksi diri dan bangsa. Tema besar Hari Kanker Sedunia tahun ini ialah “I am and I will” dengan subtema “Together, all our actions matter”. Spiritnya sangat relevan.

Itu mengingatkan lagi bahwa situasi sekarang ini hendaknya dapat kita hadapi bersama. Karena sesungguhnya dalam bungkus kolektivitas itu, semua tindakan kita punya arti penting. Tujuannya tentu saja satu, yakni dunia yang lebih sehat. Tanpa kanker. Tanpa korona.