Editorial: Kritisisme Vs Nyinyirisme

berbagi di:
img-20200720-wa0007-5f15a126d541df5143591592

Foto: kompasiana.com

 

Skeptisisme kini rutin dikembangkan sejumlah tokoh saat menanggapi optimisme pemerintah, khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, akan kebangkitan ekonomi di 2021.

 

 

Seberapa besar manfaat skeptisisme bagi harapan pemulihan ekonomi? Jawabannya jelas: nyaris nihil. Itu karena skeptisisme, alias keraguan, kini hanya berbeda selapis kulit bawang dengan nyinyirisme.

Skeptisisme amat berbeda dengan kritisisme. Kalau skeptisisme kini cenderung nyinyir, sikap kritis justru sebaliknya. Kritisisme bisa menghindarkan pengambil kebijakan ekonomi dari keterpelesetan saat mengatur strategi, menentukan keputusan, atau membuat resep pemulihan ekonomi. Yang repot, banyak pengkritik yang membabi buta dan mengumbar sekadar skeptisisme, dan bukan kritisisme.

Skeptisisme inilah yang rutin dikembangkan sejumlah tokoh saat menanggapi optimisme pemerintah, khususnya Menteri Keuangan Sri Mulyani, akan kebangkitan ekonomi kita di 2021.

Sri Mulyani tidak asal bicara. Ia menggenggam data. Ia dan timnya punya analisis atas kecenderungan-kecenderungan geliat ekonomi di triwulan terakhir 2020 ini. Dari situlah muncul optimisme bahwa ekonomi kita bisa tumbuh 4% hingga 5%, tahun depan.

Tren perdagangan kita juga menunjukkan prospek menggembirakan. BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$2,62 miliar pada November 2020. Surplus dipicu ekspor yang meroket, mencapai US$15,28 miliar. Angka tersebut melampaui impor senilai US$12,66 miliar.

Bila diselisik lebih jauh, neraca perdagangan kita dari Januari hingga November 2020 juga membiru, menguatkan alasan Menkeu menebar optimisme.

Lembaga-lembaga internasional seperti IMF, World Bank, ADB, dan Morgan Stanley juga memprediksi perekonomian sejumlah negara, termasuk Indonesia, akan bangkit tahun depan.

Namun, para pengumbar skeptisisme terkesan menutup mata atas deretan fakta, data, dan beragam analisis tersebut. Ada, misalnya, mantan pejabat menulis di Twitter dengan pandangan skeptis, bahkan nyinyir, dengan menyebut Sri Mulyani bluffing (membual) dengan optimismenya terkait dengan pertumbuhan ekonomi. ‘

Tidak ada analisis data, apalagi fakta. ‘Sang mantan’ bahkan secara ‘sadis’ menulis: ‘Ironi yang semakin menjadi-jadi. Kekuasaan semakin ditumpuk, tapi kemampuan untuk selesaikan masalah semakin nihil’.

Skeptisisme seperti itu jumlahnya tidak cuma satu, ada beberapa. Mereka ada yang menyebut diri penganut Cartesian doubt (metode keraguan Descartes). Padahal, Rene Descartes, sang filsuf abad ke-16 yang melahirkan metode itu, memegang skeptisisme sekadar sebagai metode, bukan filsafat. Sebagai filsafat, Descartes lebih memegang kritisisme, yang sangat berguna dalam upaya pencarian kebenaran.

Kalau ada orang di warung kopi meragukan optimisme pemerintah tentang kebangkitan ekonomi, itu skeptisisme. Kalau ada profesor kampus bilang kebangkitan ekonomi belum bisa diraih dalam waktu cepat karena instrumen-instrumen daya ungkit lemah, pengaruh global belum signifikan, masih terlalu mengandalkan APBN, dan seterusnya, itulah kritisisme yang banyak faedahnya bagi pengambilan kebijakan.

Kalau ada ‘orang sekolahan’ mengumbar skeptisisme seperti obrolan orang di warung kopi, lalu apa gunanya pendidikan panjang yang ia tempuh itu? Punya pisau tajam analisis kritis, kok, memilih menumpulkan diri dengan nyinyir tak berkesudahan.