Editorial : Kuliah Medis Dokter Manurung

berbagi di:

Berpulangnya Johana da Silva dan bayinya ke pangkuan Ilahi beberapa minggu lalu memberi pesan kepada masyarakat TTS dan NTT secara keseluruhan tentang rapuhnya pelayanan kesehatan. Kisah malang itu diulangi lagi di sini: Johana dan bayinya berpulang saat dokter spesialis, dr Edward S Manurung, tak ada di RSUD Soe karena tengah melayani pasien di klinik pribadinya.

Bagi keluarga, ini bentuk kelalaian setelah mendapat banyak pelayanan buruk dari pihak RSUD. Sementara bagi dr spesialis itu, ibu Johana meninggal karena air ketuban dan kematian itu bukan tanggung jawabnya.

Urusan pun belum kelar kendati dokter dan para perawat yang bertugas waktu itu sudah mendatangi rumah dari suami Ibu Johana. Urusan secara kekeluargaan tentu budaya kita. Namun, jalur hukum yang dikehendaki keluarga jelas lebih pas untuk proses pembelajaran di hari-hari mendatang. Kasus sudah di meja pihak berwajib. Mari kita lanjutkan dan hormati. Dua nyawa melayang pastilah ada sebab-sebab serius yang tidak bisa diselesaikan cuma dengan kata maaf.

Namun, di atas semua itu nasib malang Johana dan bayi mungilnya serta ethos kerja dokter Manurung meninggalkan mata kuliah berharga bagi kita semua. Pertama bagi seluruh tenaga medis di RSUD Soe. Ibu dan bayinya itu meninggal di tangan medis. Mereka telah tiada. Namun, di kamar persalinan yang mereka tempati itu tertulis pesan “Janganlah kalian bekerja dan melayani pasien dengan setengah hati, bahkan tanpa hati. Nyawa masyarakat TTS selama di RSUD ada di tangan kalian. Jadi, layanilah mereka sebagaimana engkau melayani dirimu sendiri dan anak-anakmu”.

Kedua, bagi masyarakat. Sudah saatnya masyarakat tidak menutup mulut dan mata atas kejadian seperti ini. Masalah malapraktik kerap kita jumpai. Melaporkan kepada pihak berwajib adalah hak masyarakat. PunĀ  kematian memang sebuah kepastian bagi setiap manusia. Tetapi mati secara tak wajar di rumah sakit harus dilaporkan kepada pihak berwajib. Jalan itu ditempuh bukan semata soal hukuman bagi pihak rumah sakit tetapi juga menjadi bagian dari proses perombakan pelayanan medis.

Sementara, ketiga, bagi Pemkab TTS, mata kuliah itu adalah tentang perhatian Pemda pada masalah pelayanan kesehatan. Tak hanya soal fasilitas, pelayanan RSUD juga menyoal kuantitas dan kualitas tenaga medis. Bagaimana mungkin sebuah RSUD hanya memiliki satu orang dokter spesialis? Kiranya Pemda segera menanggapi masalah ini. Akhirnya, kita mendorong agar pihak kepolisian menuntaskan masalah ini hingga menimbulkan efek jera. Semoga!