Editorial: Kursi

berbagi di:
Ilustrasi kursi

Ilustrasi kursi

 

 

Anda dipandang terhormat karena duduk di kursi itu mewakili rakyat yang menusukmu di TPS. Menusuk dadamu dan jantungmu di kertas suara agar Anda tidak membusungkan dada sembari bermalas-malasan di kursi pemberian rakyat.

 
Kursi? Ia biasa sekaligus tak biasa. Maknanya tergantung tempat dan momen. Ia biasa bagi warga biasa, tempat orang duduk bersantai, berdiskusi dan lainnya. Ia tak biasa di seputaran pemilihan umum.

Kursi berubah jadi barang rebutan. Direbut karena menarik dan mempesona. Tepatnya pesona kekuasaan. Dari eksekutif hingga legislatif. Ia empuk, enak dan memanjakan. Namun, kursi itu adalah pemberian rakyat. Karena pemberian, yang mendudukinya harus tahu diri.

Tahu diri menghasilkan kesadaran diri. Sadar bahwa itu bukan kursi privat. Itu kursi publik. Rakyat memberi mereka kesempatan untuk duduk di sana. Bukan duduk santai sembari berpangku tangan. Bukan duduk berleha-leha sekadar merebahkan badan karena empuknya kursi. Bukan pula duduk layaknya seorang boss. Sebab, itu bukan kursi boss. Itu kursi rakyat. Olehnya, duduk di kursi itu guna berdiskusi, bermusyawarah dana berbicara mengenai rakyat.

Bukan pula sembarang bicara. Bukan bicara suka-suka dan “semau gue, suka-suka beta, sesuka hati lo”. Kursi itu kursi kehormatan. Anda (calon legislatif) dipandang terhormat karena duduk di kursi itu mewakili rakyat yang menusukmu di tempat pemungutan suara. Menusuk dadamu dan jantungmu di kertas suara agar Anda tidak membusungkan dada sembari duduk bermalas-malasan di kursi pemberian rakyat itu.

Jari-jari kasar masyarakat akan beristirahat sehari pada hari pemilihan (17 April) hanya untuk menusuk wajahmu agar wajah itu tidak menjadi pongah. Wajah-wajah yang diharapkan mewakili mereka dengan sungguh-sungguh. Bukan wajah-wajah lesu, malas, munafik dan egois. Di wajahmu ada, meminjam pemikiran filsuf Emanuel Levinas, etika wajah. Wajah yang bertanggung jawab. Wajah yang tunduk pada wajah-wajah rakyat. Bukan wajah arogan dan represif.

Kiranya parpol-parpol di NTT yang sudah memasang target perolehan kursi pada pemilihan legislatif besok tak sekadar bicara kursi. Bicaralah tentang orang-orang yang akan menempati kursi itu, dari pusat hingga kabupaten/kota. Bicaralah mengenai wajah-wajah yang sangat nekat, berani dan lugas menyatakan diri mereka “muda-cerdas-jujur-peduli-merakyat-bersih-agamis” pada baliho-baliho mereka. Kursi rebutan itu bukan sekadar kursi. Itu kursi tanggung jawab. Itu bukan kursi kepongahan!