Editorial : Makan Ubi Hutan

berbagi di:
foto-orang-gali-ui-tana-mbanas-1

 

 

 

Judul ini menggambarkan kondisi masyarakat Sumba Tengah. Satu desa di Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Nusa Tenggara Timur mulai dilanda ketiadaan pangan. Jagung dan ubi-ubian tak ada karena gagal panen. Apalagi beras. Satu-satunya jalan adalah ubi hutan beracun pemberian alam. Setelah dikelola cukup panjang guna menghilangkan zat beracun dalam ubi, baru bisa dikonsumsi. Mencari makan pun harus menantang maut. Apa pesannya?

Masalah kekeringan, gagal panen, dan kelaparan di daerah ini terjadi setiap tahun. Artinya, musibah ini sudah diketahui karena menjadi rutinitas. Idealnya, pola pikir dan pola kerja “sedia payung sebelum hujan” mestinya menjadi sebuah keharusan. Itu lebih baik karena mereka sudah tahu tantangan yang terus datang di depan mata. Mengapa terus menjadi persoalan yang seakan-akan tak ada jalan keluar?

Kita tentu turut prihatin dengan masyarakat Desa Tana Mbanas Selatan di Sumba Tengah, dan dengan daerah lain yang ditimpa persoalan serupa. Namun, rasa prihatin itu harus pula dibarengi dengan masukan-masukan pemikiran, yang kiranya didengar. Pemikiran itu tak lain adalah ajakan untuk tidak tunduk pada alam. Sebab, manusia memiliki kemampuan menundukkan alam, asal ada kemauan untuk bekerja keras.

Masukan ini paling tepat disarangkan kepada pemerintah setempat, dari pemkab, pemerintah kecamatan hingga pemerintah desa. Perlawanan terhadap alam harus dimulai dari mereka. Jika kekeringan adalah sumber masalah bagi pertanian, maka langkah yang wajib diambil tentu pada bagaimana caranya agar pada musim kering daerah ini tidak dilanda krisis air. Sebab, air adalah elemen dasar bagi pertanian.

Kebijakan pemerintah (daerah) dan solusinya sedapat mungkin bersifat permanen. Betul bahwa persiapan dan pengajuan rastra atau raskin kepada pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana menjadi kewajiban pemerintah. Namun, tidak bagus jika krisis yang terus berulang tahun tersebut diberi solusi semacam itu.

Kebijakan pemda seharusnya mengubah keadaan; dari masyarakat yang selalu “bertangan di bawah” menjadi masyarakat “bertangan di atas”, paling tidak mereka mampu memenuhi pangan-pangan pokok. Mari mengubah pola pendekatan agar lebih mampu berdiri di atas kaki sendiri. Alam bisa ditundukkan!