Editorial: Memulai Vaksinasi

berbagi di:
img-20210105-wa0002

Vaksin Sinovac saat tiba di Bandara El Tari Kupang. Foto: Nahor Fatbanu/VN

 

Keputusan izin dari Badan POM dan MUI semestinya juga sekaligus menjadi momentum mengakhiri polemik tentang halal-haram maupun efektif tidaknya vaksin Sinovac itu dalam membentengi tubuh dari serangan virus.

 
Dua isu besar yang sempat menggantung terkait layak tidaknya vaksin covid-19 buatan Sinovac digunakan di Indonesia, yakni tentang kehalalan vaksin dan izin kedaruratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), kini sudah menemukan kejelasan.

Kemarin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan secara resmi penetapan fatwa halal terhadap vaksin covid-19 tersebut. MUI dengan tegas menyebut vaksin yang diproduksi perusahaan asal Tiongkok itu suci dan halal. Sementara itu, Badan POM juga resmi mengeluarkan izin darurat atau emergency use authorization (EUA) untuk vaksin Sinovac.

Sepuluh bulan sudah kita dihantam covid-19. Alih-alih mereda, sampai hari ini peningkatan angka penularan covid-19 malah kian menanjak. Beragam aturan pembatasan sosial dengan segala istilah dan modifikasinya sudah dilakukan, tetapi penyebaran virus belum juga mampu diredam.

Semua pihak menyatakan ingin virus segera menjauh, tetapi mereka pula yang sering mengkhianatinya sendiri. Pemerintah acap tak tegas, tidak jarang pula membuat regulasi atau pernyataan yang kontradiktif. Di lain sisi, tingkat kedisiplinan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan makin ke sini makin rendah.

Karena itu, perkembangan positif tentang vaksin mestinya bisa kita nilai sebagai peletup semangat baru. Kelancaran pengadaan vaksin kita harapkan dapat berlanjut hingga proses vaksinasinya nanti.

Besok, Indonesia akan memulai proses vaksinasi dengan Presiden Joko Widodo sebagai penerima vaksin pertama. Kita tentu berharap proses vaksinasi pertama dan seterusnya dapat berjalan lancar.

Keputusan izin dari Badan POM dan MUI semestinya juga sekaligus menjadi momentum mengakhiri polemik tentang halal-haram maupun efektif tidaknya vaksin Sinovac itu dalam membentengi tubuh dari serangan virus. Virus tidak bakal hilang dengan terus berpolemik. Virus akan lenyap ketika semua elemen bangsa ini kompak dan punya spirit optimisme yang sama.

Namun, sekali lagi mesti kita ingatkan, hari pertama penyuntikan vaksin tersebut semestinya tidak malah menjadi titik balik upaya keras kita melawan covid-19 selama ini. Vaksin tidak akan menjadi juru selamat jikalau kita terlalu mengglorifikasinya dan di saat yang sama justru melupakan protokol kesehatan.

Artinya, vaksin dan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan) tetaplah harus berjalan seiring. Pun dengan pemerintah, dimulainya vaksinasi bukanlah alasan untuk mengabaikan atau melonggarkan sisi-sisi yang lain. Dengan begitu, kita punya bekal optimisme untuk memulai vaksinasi.