Editorial: Menumpas Kultur Malas setelah Lebaran

berbagi di:
ilustrasi lambang ASN

Di hari pertama kerja setelah libur Lebaran inilah kultur malas setelah liburan harus ditumpas. Pimpinan OPD patut ditegur apabila banyak anakbuahnya absen tanpa alasan yang jelas. Sebab, ini menyangkut kultur kerja yang dibangun di tiap OPD.

 
Libur Lebaran 2019 berakhir besok. Setelah 11 hari libur termasuk 5 hari cuti bersama, seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) bekerja kembali pada Senin (10/6).

Setelah libur, ASN mestinya bekerja jauh lebih giat lagi. Pelayanan publik menjadi sebuah tanggung jawab utama pemerintah kepada masyarakat. Karena itu, masuk kerja tepat waktu adalah kewajiban ASN.

ASN yang terlambat masuk atau bolos pada hari pertama kerja setelah libur Lebaran, bukan saja pemalas melainkan curang. ASN model ini sesungguhnya koruptor karena mencuri waktu dari negara dan masyarakat.

Mereka yang malas atau bolos patut dikenai sanksi atau hukuman displin.
Kita sepakat dengan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang akan menerapkan sanksi sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS.

Terdapat hukuman disiplin ringan hingga berat dalam PP tersebut.
Hukuman disiplin ringan terdiri dari teguran lisan, teguran tertulis, dan pernyataan tidak puas secara tertulis. Hukuman disiplin sedang berupa penundaan kenaikan gaji berkala, penundaan kenaikan pangkat, dan penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama satu tahun.

Sedangkan hukuman disiplin berat berupa penurunan pangkat setingkat lebih rendah selama 3 tahun, pemindahan dalam rangka penurunan jabatan, pembebasan dari jabatan, pemberhentian dengan hormat tidak ada permintaan sendiri sebagai ASN, dan pemberhentian tidak hormat sebagai ASN.

Kita pun setuju dengan Kementerian PAN-RB yang juga akan menerapkan sanksi itu untuk ASN yang kedapatan menggunakan mobil dinas untuk kepentingan pribadi selama masa libur Lebaran.

Penerapan sanksi itu penting untuk memberikan efek jera dan pembelajaran, baik bagi yang bersangkutan maupun ASN lainnya. Terlebih pemerintah sudah memanjakan ASN yang tahun ini mendapat masa libur lebaran kedua terpanjang dalam sejarah.

Untuk konteks NTT, patut diingatkan kembali untuk “memanfaatkan” rompi oranye yang bertuliskan “Saya Tidak Disiplin”. ASN yang membolos dan atau alpa patut mengenakan rompi tersebut.

Di hari pertama kerja setelah libur Lebaran inilah kultur malas setelah liburan harus ditumpas. Pimpinan OPD patut ditegur apabila banyak anakbuahnya absen tanpa alasan yang jelas. Sebab, ini menyangkut kultur kerja yang dibangun di tiap OPD.

Liburan –apalagi di hari raya keagamaan– mestinya memberikan energi dan spirit baru dalam bekerja memberikan pelayanan terbaik dan bukannya malah membuat kinerja menjadi menurun.