Editorial: Menunggu Geliat Industri Kreatif

berbagi di:
Kerajinan masker tenun ikat NTT. Foto: Dekranasda NTT

Kerajinan masker tenun ikat NTT. Foto: Dekranasda NTT

 

Masyarakat yang sudah setahun ini dibatasi seluruh aktivitas akibat pandemi juga membutuhkan hiburan. Pentas musik dan budaya pada dasarnya ialah rekreasi jiwa yang dibutuhkan masyarakat.

 
Sudah satu tahun negeri ini dilanda pandemi covid-19. Selama itu pula seluruh kegiatan yang bersifat mengumpulkan massa dibatasi secara superketat, bahkan dilarang sama sekali. Industri kreatif salah satu sektor yang terkena dampak amat mendalam.

Pelaku industri kreatif, kini, bolehlah bernapas lega. Pemerintah mempertimbangkan untuk memberikan izin kegiatan industri kreatif. Meski demikian, kesehatan dan keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama mengingat keselamatan rakyat tetap menjadi hukum tertinggi.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif patut diberi apresiasi karena sudah menyiapkan semua prasyarat terkait pembukaan kegiatan industri kreatif. Kementerian menyiapkan penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE pada kegiatan event dan MICE (meetings, incentives, conferencing, exhibitions) saat pandemi covid-19.

CHSE adalah penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainability (kelestarian lingkungan).

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dalam keterangannya, Selasa (9/3), mengumumkan Kapolri mendukung penuh pelaksanaan kegiatan masyarakat berupa acara musik, MICE, pekan olahraga, hingga acara budaya dengan protokol kesehatan yang ketat.

Pengumuman Sandiaga Uno itu langsung disambut gembira pelaku industri kreatif. Akan tetapi, kegembiraan itu hanya berlangsung sesaat. Mabes Polri menjelaskan Kapolri belum mengeluarkan aturan terkait dengan pergelaran konser musik dan pertunjukan seni kreatif.

Tidak perlu berkecil hati apalagi kecewa. Paling penting ialah Kapolri sudah mendukung kegiatan pentas musik dan budaya, izin itu persoalan administrasi yang bisa keluar kapan saja. Eloknya, selain mendapatkan izin dari kepolisian, pelaku industri kreatif menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah, sebab daerah pemegang otoritas pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro.

Pelaku industri kreatif bisa saja memanfaatkan pelonggaran fasilitas umum itu untuk kegiatan pentas musik dan budaya. Pentas itu bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru, misalnya, pada zona hijau dilakukan secara offline, kemudian zona kuning hybrid, offline, dan online, dan zona merah hanya untuk online.

Terus terang, pentas musik dan budaya itu bukan semata-mata kebutuhan pelaku industri kreatif. Apalagi, pelaku industri kreatif sudah menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo pada awal Maret. Dalam surat itu mereka meminta kejelasan nasib mereka dan meminta izin untuk bekerja kembali dengan memberlakukan penyesuaian berupa protokol kesehatan.

Masyarakat yang sudah setahun ini dibatasi seluruh aktivitas akibat pandemi juga membutuhkan hiburan. Pentas musik dan budaya pada dasarnya ialah rekreasi jiwa yang dibutuhkan masyarakat. Karena itu, kita tunggu industri kreatif menggeliat.