Editorial : Menyikapi Aksi Jambret Komplotan Pelajar

berbagi di:
ilustrasi jambret

 
Pelajar harus belajar. Idealnya demikian. Namun sayang jika pelajar justru mencuri atau menjambret. Entah karena desakan keadaan atau sebab lainnya, mencuri tetaplah gambaran kerusakan jiwa dan mental anak muda. Itu bukan lagi sekadar kenakalan anak remaja tetapi masuk kategori kejahatan.

Penangkapan sembilan oknum pelajar SMA komplotan pencuri handphone di Kota Kupang adalah kabar buruk bagi kita semua. Mereka rata-rata berumur 16 tahun, umur yang rentan terbawa arus lingkungan dan pertemanan. Umur dimana anak-anak mudah meniru, baik hal-hal baik maupun hal-hal buruk.

Dalam kelompok mereka merasa nyaman berkawan. Setia kawan pun tak hanya untung atau pun malang. Tetapi juga mereka setia dan kompak dalam tindakan kebaikan maupun kejahatan.

Komplotan pelajar yang sudah melakukan aksi penjambretan di sejumlah tempat di Kota Kupang itu, mesti dilihat dari berbagai sudut pandang dan faktor. Dari faktor keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat maupun lingkungan pergaulan. Keluarga baik, aman, dan nyaman tentu menjadi tempat yang baik pula bagi anak-anak untuk bertumbuh.

Karenanya, peran keluarga menjadi wadah pertama dan utama dalam mencarikan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Berita komplotan pelajar pencuri ini harus menjadi bahan refleksi masing-masing keluarga.

Hal itu berlaku pula bagi lingkungan sekolah. Karena mereka pelajar, maka pintu utama kedua adalah lembaga pendidikan. Peran sekolah sangatlah penting. Jika kita jujur, harus diakui bahwa sekolah-sekolah di negeri ini, termasuk NTT, sudah kehilangan fungsinya mendidik mental dan karakter. Yang tersisa hanyalah fungsi mengajar (teaching); sekadar transfer pengetahuan, seakan angka dan nilai mata pelajaran menjadi segalanya.

Menjadi tambah menyedihkan manakala peran rumah/keluarga sebagai persemaian benih moral dan akhlak pun kian pudar. Keluarga, terlebih orang tua, cenderung hanya fokus sebagai pencari nafkah dan lalai dalam perannya membentuk mental dan karakter anak.

Karenanya, masalah komplotan pelajar pencuri ini juga menjadi bahan refleksi sekolah dan seluruh lembaga pendidikan, termasuk keluarga agar kembali pada peran utama mereka membentuk mental dan karakter anak.

Pemerintah pun diwajibkan untuk memberi perhatian penuh pada masalah tersebut. Kebijakan pendidikan bagi sekolah-sekolah perlu mempertimbangkan nilai-nilai mental, karakter, sikap, kedisiplinan, dan lain sebagainya.

Akhirnya, lingkungan masyarakat menjadi pintu utama ketiga. Masalah kenakalan anak remaja bukan semata urusan keluarga, atau hanya urusan sekolah. Sudah saatnya lingkungan masyarakat, dari RT/RW, kelurahan, hingga lingkup yang paling besar turut berpartisipasi dalam mengatasi kenakalan anak-anak muda. Kita semua mesti membangun sebuah kepedulian kolektif bahwa nasib dan masa depan generasi ada di tangan kita semua. Semoga!