Editorial : Pilih Pemimpin Pekerja Keras

berbagi di:
pemimpin

 

 

 

Mematikan total sesuatu harus dimulai dari jantung atau bagian yang menjadi nyawanya. Sama halnya dalam permainan sepak bola. Mematikan lawan tanggu harus dimulai dari melumpuhkan pergerakan para pemain yang menjadi otak permainan mereka. Intinya, akar masalah harus dicari lalu dicabut.

Dengan pertanyaan “mengapa anda maju pilgub” bagi para calon dalam dialog meja bundar, Forum Pemuda Kupang-Jakarta sesungguhnya ingin mencari tahu kemampuan para cagub NTT tentang akar-akar keterbelakangan NTT saat ini. Rupanya, mereka muncul dengan sudut pandang yang berbeda-beda dengan tiga persoalan yang menjadi prioritas.
Marianus Sae menemukan jantung keterbelakangan NTT ada pada tiarapnya infrastruktur dasar. Satu di antaranya adalah jalan raya.

Interkonektivitas rendah menyebabkan NTT terbelakang dalam semua bidang. Padahal, kecepatan lalu lintas dan keterhubungan antar satu daerah ke daerah lain, termasuk antar kampung sangat diperlukan. Pelayanan dalam bidang kesehatan dan pendidikan, misalnya, tak mungkin maksimal jika infrastruktur dasar ini tidak dipenuhi.

Tak kalah menarik kala Jacky Uli menekankan faktor penegakan hukum sebagai akar masalah. Poin penting Jacky ada pada kelakuan elit. Pemberantasan korupsi adalah contohnya, yang menurutnya sudah menjalar ke seluruh instansi-instansi pemerintah dan bahkan swasta, dari yang terbesar hingga yang terkecil. Korupsi itu sumbernya adalah soal kelakuan elit-elit daerah.

Mustahil korupsi diberangus jika penegakkan hukum lembek. Olehnya, dibutuhkan gubernur yang bersedia, berniat, berkehendak, dan berani memimpin pemberantasan korupsi. Dalam poin itu terdapat poin krusial lain yang menyatakan kurang lebih begini bahwa para pemimpin di NTT saat ini adalah mereka yang enggan, ragu dan bahkan tidak berniat sedikit pun untuk menghancurkan “sifat mencuri dan merampas”.

Ada pun Ibrahim Medah menyoroti faktor penting lain penyeban keterbelakangan NTT, yakni akar masalah kemiskinan. Letaknya pada gagalnya strategi pertanian, peternakan dan kelautan. Pengamatan Medah ini juga sangat krusial. Sebab, NTT belum bisa keluar dari masalah-masalah dasar seperti gagal panen karena kekeringan yang berbuntut kelaparan, gizi buruk dan tingkat kematian tinggi.

Singkat kata, keterbelakangan NTT merupakan produk dari lingkaran kegagalan. Kegagalan mental berupa sifat korup, dipadukan dengan kegagalan strategi karena kelemahan SDM, sekaligus kelemahan niat baik. Pesan konkret bagi rakyat NTT: pilihlah gubernur yang tepat di 2018.