Editorial: Rakyat Matang Berdemokrasi

berbagi di:
demokrasi-pendidikan

Yang lebih membanggakan ialah hasil survei mengenai pandangan masyarakat terhadap hasil pemilu. Sebanyak 92,5 persen masyarakat menyatakan menerima siapa pun pemenang pilpres.

 

Pemilu sejatinya menjadi ujian kedewasaan berdemokrasi suatu negara. Bangsa yang bermartabat tentu saja bijak menunggu hasil akhir penghitungan suara, bukan doyan mengklaim kemenangan.

Hasil akhir Pemilu 2019 akan diumumkan KPU pada 22 Mei. Hasil akhir itu ditentukan berdasarkan penghitungan rekapitulasi suara secara manual yang dilakukan berjenjang mulai tingkat kecamatan hingga nasional.

Jujur diakui bahwa mayoritas masyarakat sudah dewasa berdemokrasi. Pada umumnya pemilih menerima dengan lapang hati jika pilihannya kalah. Begitu pun sebaliknya. Kemenangan dan kekalahan disikapi sebagai sebuah keniscayaan kontestasi.

Keniscayaan kontestasi juga disadari, pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Mereka pada mulanya siap menang dan siap kalah saat memasuki kontestasi. Namun, setelah pemilu, malah ada yang tidak siap kalah.

Elok nian bila para kontestan memberikan keteladanan bersikap dan bertutur yang memancarkan perilaku kenegarawanan di ruang publik. Salah satunya ialah mengajak para pendukung untuk bersabar menunggu penetapan hasil pemilu.

Membiarkan pendukung untuk memasang baliho kemenangan ialah salah satu bentuk sikap tak terpuji. Sikap tidak terpuji lainnya ialah menuding kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif tanpa didukung data akurat.

Bangsa ini sudah saatnya bersama-sama tegas menolak segala upaya yang terus mendiskreditkan kewenangan dan peran institusi negara, dalam hal ini ialah KPU.

Sebagai warga negara yang bermartabat, sepantasnya kita membiarkan KPU melaksanakan tugas. Protes haruslah disampaikan lewat saluran-saluran yang telah disediakan, bukan membawanya menjadi politik jalanan.

Kedewasaan bernegara dan berpolitik itu sebenarnya juga sudah diperlihatkan masyarakat sendiri. Hingga hari ini, meski sebagian masyarakat ada yang terjerat politik provokasi, lebih banyak yang menunjukkan martabat terpuji.

Kedewasaan masyarakat dalam berpolitik itu juga sesungguhnya sudah ditunjukkan dari kenaikan partisipasi pemilih. Tahun ini jumlah pemilih mencapai 81,78 persen atau naik cukup signifikan jika dibandingkan dengan di Pemilu 2014. Saat itu tingkat partisipasi di pileg 75 persen dan pilpres 69,5 persen.

Yang lebih membanggakan ialah hasil survei mengenai pandangan masyarakat terhadap hasil pemilu. Sebanyak 92,5 persen masyarakat menyatakan menerima siapa pun pemenang pilpres.

Sudah saatnya kita sebagai rakyat bangkit dan tegas menolak segala pembodohan pikir dan hasutan perpecahan. Rakyat sudah matang berdemokrasi.