Editorial: SMK Bisa Mengubah NTT

berbagi di:
foto-hal-15-foto-master-gebyar-sma

Ada 25 SMK terancam ditutup karena kekurangan murid dan fasilitas. Ini masalah. NTT justru membutuhkannya lebih banyak. Bukan ditutup, tetapi justru dibuka sebanyak-banyaknya.

 
Reformasi pendidikan. Itu yang tepat bagi NTT. Layak dicap daerah terbodoh? Tentu saja tak layak. Manusia NTT berkemampuan. Hanya saja ia membutuhkan sarana/prasarana memadai. Nah, reformasi pendidikan dimulai dari reformasi sarana/prasarana itu. Itu tugas seluruh Pemda. Kini ada banyak sekolah, apalagi SD, SMP, SMA dan SMK. Sayangnya, urusan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Pelantikan 88 kepala sekolah SMK di Kupang memiliki catatan. Wakil Gubernur, Josef Noe Soi, melantik mereka dengan beberapa catatan. Catatan mengenai kompetensi, integritas dan etos kerja guru. Ini semua catatan biasa yang diulang terus menerus. Tentu saja catatan itu bagus. Yang perlu dipikirkan adalah desain besar pendidikan NTT kini, di tengah dunia yang berubah super cepat. Desain model dan harus bagaimana?

Bisa kita bedah dari urusan SMK-SMK. Disebut sekolah kejuruan karena targetnya mencetak para spesialis. Siswa/i dididik untuk menjadi ahli di bidang yang sangat spesifik. Ahli di bidang pariwisata, pertanian, kelautan, transportasi, perhotelan, dan lain sebagainya. Menjadi ahli di bidang-bidang itu tentu tak mudah. Sebab, ahli adalah orang-orang kreatif dan kompetitif di bidangnya.

Tak salah jika Jokowi-JK memasukkan SMK-SMK di seluruh Indonesia dalam program revitalisasi pendidikan. Alasannya tentu saja karena kini adalah era industri kreatif. Indonesia membutuhkan generasi kreatif. SMK-SMK adalah garda terdepan mengubah bangsa. Mengubah dengan cara mencetak generasi-generasi yang bisa berpacu dalam kecepatan dan keahlian tinggi.

Tugas pemerintah tak lain adalah menyediakan fasilitas yang kompetitif. Sarana/prasarana memadai adalah kebutuhan mendasar dan utama. Kompetensi para guru tentu saja diperlukan. Namun, ketiadaan fasilitas yang memadai juga sangat mempengaruhi.

Kiranya pelantikan 88 kepala sekolah SMK oleh Pemerintah Provinsi NTT juga menjadi garis start perhatian serius Pemda akan keberadaan SMK-SMK di NTT. SMK adalah ujung tombak industri kreatif! Ada 25 SMK terancam ditutup karena kekurangan murid dan fasilitas. Ini masalah. NTT justru membutuhkannya lebih banyak. Bukan ditutup, tetapi justru dibuka sebanyak-banyaknya. Sebab, NTT itu memiliki banyak potensi yang harus digali. Semoga!