Editorial: Tugas Terakhir MK Tangani Pilkada

berbagi di:
2018-01-19_mahkamah-konstitusi

Badan peradilan khusus hendaknya berkedudukan di ibu kota provinsi agar sengketa pilkada tidak berbiaya mahal. Berbiaya mahal karena semua sengketa pilkada diselesaikan di Jakarta.

 

 
Mahkamah Konstitusi (MK) mestinya fokus mengawal konstitusi, tidak menyambi menjadi pengawal demokrasi. Sebagai pengawal demokrasi, MK menjadi pemutus paling akhir atas sengketa pilkada. Sengketa Pilkada 2020 harus menjadi tugas terakhir MK.

Hasil pilkada yang digelar pada 9 Desember ditetapkan oleh KPU pada 16 Desember sampai 26 Desember. Atas penetapan itu, ada pasangan calon yang menerima kekalahan, ada pula yang tidak bisa menerima dengan ragam alasan. Mereka yang tidak terima itulah yang mengajukan gugatan ke MK.

Sejauh ini sudah 75 pasangan calon yang mendaftarkan gugatan ke MK. Sesuai Peraturan MK Nomor 8 Tahun 2020, batas akhir pengajuan permohonan gugatan ke MK pada 29 Desember.

Gugatan yang paling ditunggu-tunggu saat ini ialah gugatan yang dilayangkan pemantau pilkada di 25 daerah dengan calon tunggal. Sesuai ketentuan Peraturan MK Nomor 6 Tahun 2020, pemantau boleh mengajukan gugatan terkait pilkada dengan calon tunggal.

Pilkada ialah bentuk nyata perwujudan demokrasi lokal. Akan tetapi, dalam praktiknya, masih ditemukan fenomena yang merusak citra pilkada bermartabat.

Jika mencermati dengan saksama putusan MK terkait pil kada selama ini, selain pelanggaran dalam bentuk penggelembungan suara, setidaknya ada tiga bentuk pelanggaran dalam proses pilkada yang dapat membatalkan hasilnya.

Pertama, mobilisasi aparat birokasi pemerintahan. Pelanggaran seperti ini pada umumnya dilakukan calon petahana. Kedua, keberpihakan dan kelalaian penyelenggara pemilu terkait syarat calon kepala daerah.

Kelalaian itu bisa berbentuk meluluskan calon yang seharusnya menurut undang-undang tidak memenuhi syarat atau mendiskualifikasi calon yang menurut UU seharusnya memenuhi syarat. Ketiga, pelanggaran politik uang yang dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masif.

Apa pun putusan akhir MK terkait sengketa pilkada, hendaknya putusan itu tidak hanya menyangkut nasib para kandidat yang berkompetisi. Paling penting ialah putusan MK itu mengembalikan kemurnian kedaulatan rakyat pada saat di bilik suara. Hanya itu cara menjadikan pilkada benar-benar sebagai perwujudan kedaulatan rakyat, bukan kedaulatan mahkamah.

Sengketa pilkada kali ini menjadi menarik disimak sebab Pilkada 2020 menjadi pilkada serentak terakhir sejak 2015. Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada, pilkada serentak nasional digelar pada November 2024. Keterlibatan MK dalam menyelesaikan sengketa pilkada, mestinya, kali ini yang terakhir.

Putusan MK pada 2013 telah membatalkan kewenangan mahkamah mengadili sengketa pilkada. Artinya, sejak putusan ditetapkan sampai pilkada kali ini, keterlibatan MK hanya bersifat transisi sambil menunggu terbentuknya peradilan khusus.

Badan peradilan khusus itu hendaknya berkedudukan di ibu kota provinsi agar sengketa pilkada tidak berbiaya mahal seperti selama ini. Berbiaya mahal karena semua sengketa pilkada dari seluruh penjuru negeri diselesaikan di Jakarta.