Edukasi QRIS Lembata Menuju 12 juta QRIS di Indonesia

berbagi di:
img-20210220-wa0033

I Nyoman Ariawan Atmaja
Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT

 

 

 

Putra Bali Mula

 

 
Bank Indonesia Perwakilan NTT mengedukasi masyarakat Kabupaten Lembata mengenai manfaat dan cara penggunaan QRIS (Quick Response Indonesia Standar). Edukasi di Kabupaten Lembata ini merupakan salah dorongan dalam mensukseskan program nasional menuju 12 juta merchant QRIS se-Nusantara.

I Nyoman Ariawan Atmaja selaku Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT dalam sambutannya secara daring menyampaikan QRIS bukan suatu aplikasi, namun merupakan standar pembayaran berbasis QR Code yang akan menjadi rujukan berbagai penyelenggara pembayaran menggunakan smartphone.

Ia menegaskan hal itu secara daring dalam seminar dengan judul “Eksistensi QRIS (Quick Response Indonesia Standar) Bank Indonesia – Solusi Pembayaran di masa pandemi Covid-19” saat itu.

Seminar ini juga bekerjasama Komisi XI DPR RI dan dilaksanakan secara daring dan luring. Warga berkumpul di SMA Don Bosco Lewoleba Sabtu (20/2) untuk mendapatkan sosialisasi ini sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku.

Sejak QRIS diluncurkan, kata dia, berbagai kemajuan cukup pesat telah dicapai. Sampai dengan saat inipun sudah terdapat 48 penyelenggara berijin untuk menyelenggarakan QRIS dari Bank Indonesia. Ada sebanyak 28 penyelenggara bank dan 24 penyelenggara non bank.

Hingga 11 Februari 2021, kata dia, merchant yang sudah terdaftar dan memasang QRIS mencapai 6,2 juta merchant di seluruh Indonesia termasuk di kepulauan Seribu dan Mentawai.

Sementara di Provinsi NTT, sebanyak 32.211 pedagang sudah terdaftar dan menggunakan QRIS. 391 pedagang diantaranya berlokasi di Kabupaten Lembata.

Ia melihat potensi peningkatan jumlah pedagang yang menggunakan QRIS masih cukup besar jika dilihat dari total jumlah pedagang pasar dan UMKM di Provinsi NTT. Untuk itu ia yakin penggunaan QRIS di NTT dapat terus meningkat.

“Pada tahun 2021, mari kita sukseskan Program Nasional menuju 12 juta merchant QRIS se Nusantara,” ajaknya.

Menurut dia, pandemi saat ini membuat masyarakat mau tidak mau harus menggunakan teknologi terutama memakai transaksi digital. Dengan QRIS yang digunakan melalui smartphone dapat dilakukan di pasar atau jenis usaha apapun termasuk oleh nasabah Bank NTT karena bank daerah ini sudah menerapkan QRIS untuk mempercepat transaksi keuangan. Metode alternatif ini, kata dia, juga dapat meningkatkan omzet penjualan dan menghilangkan kerugian akibat uang palsu.

“Cukup kita scan dan nominal harganya bisa dibayar,” ungkap Nyoman.

Keuntungan lainnya, pedagang tidak kesulitan lagi dalam menyediakan uang kecil untuk kembalian. Selain itu, pada masa ini tentunya perluasan pangsa pembeli akibat adanya QRIS pun berpotensi meningkatkan omset penjualan.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional, Ahmad Yohan dalam kesempatan itu mengapresiasi Bank Indonesia yang terus melakukan inovasi di tengah pandemi terutama dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan.

Ia juga sempat hadir dalam launching QRIS di Kupang dan ia ingin agar QRIS ini dimanfaatkan karena mempermudahkan transaksi non tunai. Ia juga mengajak pengusaha di NTT menggunakan QRIS dalam pembayaran.

“Lebih mudah dan kita tentunya terhindar dari Corona,” tukas dia. (Yan/ol)