FAN Mulai Latih 16 Tenaga Laboran untuk qPCR Pool Test

berbagi di:
img_20200615_190834

Foto: Sinta/VN

 

 

 

Sinta Tapobali

Forum Academia NTT (FAN)  NTT menginisiasi strategi surveilans berbasis biomolekuler melalui quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) Pooled Test.

Sebagai langkah awal, FAN mengadakan pelatihan bagi 16 laboran yang berlangsung 15-19 Juni 2020 di Ruang Student Center, Politani Kupang.

Acara pembukaan diselenggarakan Senin, (15/6) pagi dan dihadiri Asisten III Setda NTT Cosmas D. Lana, Kepala Dinas Kesehatan NTT dr. Dominggus Merre, Kepala UPT Veteriner drh. Artati Loasana, Direktur Politeknik Pertanian Kupang Thomas Lapenangga, Ketua Tim Pool Test Forum Academia NTT  Fainmarinant Inabuy, Ph. D, dan Moderator FAN Dominggus Elcid Li.

Pelatihan bertujuan memberikan ilmu pengetahuan tambahan sekaligus melatih 16 tenaga laboran agar bisa mengoperasikan mesin qPCR yang akan digunakan untuk melakukan pemeriksaan Covid-19 secara massal bagi masyarakat NTT.

Ketua Tim Pool Test Forum Academia NTT Fainmarinant Inabuy mengatakan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi  berbaga pihak kerjasama lintas sektor, bukan hanya atas usaha Forum Academia NTT saja.

Fima mengajak semua pihak untuk ikut berkolaborasi menciptakan terobosan baru demi keberlangsungan kesehatan masyarakat NTT ke depan khusus dalam penanganan wabah Covid-19 yang menjadi persoalan dunia saat ini.

“Saya mengajak semua pihak untuk bekerjsama dan tidak merasa bahwa ini hanya program Forum Academia NTT saja tetapi ini adalah sebuah usulan dari Forum Academia NTT untuk kita lakukan. Kenapa? Karena ini merupakan bentuk kecintaan kita pada NTT,” tegasnya penuh semangat.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dominggus Minggu Mere berharap pelatihan ini dapat memberikan dampak pencegahan dari sisi hulu atau masyarakat sehingga di sisi hilir atau sampai pada tingkat perawatan dan penanganan dapat dilakukan dengan baik.

“Kalau semua lepas bebas ke hilir maka saya yakin dan saya pastikan saat ini rumah sakit kita tidak cukup kuat untuk menangani pasien dan pasti collaps seperti yang dialami Rumah Sakit Airlangga. Ketika pasien sangat banyak, tenaga dokter dan perawat banyak yang positif maka akhirnya terpaksa harus ditutup. Saya tidak ingin itu terjadi di NTT,” ujarnya.

Asisten III Sedta NTT, Cosmas D Lana saat membuka kegiatan pelatihan ini mengatakan Pemerintah Provinsi NTT memberikan perhatian dan mendukung kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh Forum Academia NTT ini.  Pemerintah sangat mengapresiasi kerjasama yang di lakukan Forum Academia NTT dengan pemerintah khususnya Dinas Kesehatan NTT.

Ia berharap pelatihan ini dapat berjalan lancar dan menghasilkan rekomendasi yang dapat disampaikan kepada pemerintah untuk dibawa hingga ke level tatanan kebijakan.

Ia mengatakan, jika pemeriksaan qPCR sudah dilakukan maka dari segi waktu dan biaya sangat efisien karena dapat memeriksa ratusan sampel dalam satu waktu.

“Dari segi efisiensi waktu oke, biaya oke dan efektivitas dan waktu pelayanan lebih cepat. Itu artinya, pemerintah responsif terhadap kebutuhan masyarakat yang menginginkan agar keadaan ini segera pulih dengan pemberlakuan new normal,” katanya.

Ia berharap pelatihan ini tidak hanya memberikan dampak di tingkat provinsi namun juga akan berdampak hingga ke tingkat kabupaten/kota se-NTT khususnya kabupaten yang tingkat penyebaran dan kasus positif Covid-19 tinggi.

Moderator FAN Dominggus Elcid Li berharap qPCR pooled test atau tes massal Covid-19 bisa dilakukan di kota-kota besar dan jika alat ini tercukupi maka pemeriksaan ini dapat dilakukan hingga tingkat desa dalam waktu yang cepat.

Ia juga berharap dengan Pooled Test qPCR, NTT dapat menemukan jalan keluar untuk Indonesia, terutama berhadapan dengan persoalan health security.

“Keinginan saya ketika mengadaptasi kebiasaan baru, NTT sudah punya peralatan yang mengantisipasi kemungkinan terjadinya out break dan test swab massal adalah salah satu jalan keluar karena pemulihan di sektor ekonomi akan lebih cepat apabila kesehatan diperhatikan karena kalau tidak maka masyarakat tidak akan percaya diri,” paparnya. (bev/ol)