Forum PRB Lembata Dorong Lockdown Terbatas

berbagi di:
ilustrasi-lockdown-758x426

 

 

 

Hiero Bokilia

Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Lembata, Nusa Tenggara Timur mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lembata segera mengeluarkan kebijakan lockdown untuk menutup masuknya kapal penumpang dari luar NTT ke Lembata.

Ketua Forum PRB Kabupaten Lembata Andris Korban dalam pertemuan Tim Relawan Edukasi Covid-19 Forum PRB Kabupaten Lembata bersama Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai, Rabu (25/3) mengatakan ada sembilan rekomendasi untuk diserahkan kepada Pemkab Lembata dalam menindaklanuti Covid-19 yang kian meresahkan masyarakat.

Pertama mendorong Pemkab Lembata melakukan lockdown terbatas terhadap masuknya barang dan orang secara ketat. Penindakan tegas terhadap anak sekolah yang telah dirumahkan namun masih berkeliaran dan berkumpul. Edukasi ke masyarakat secara rutin dan kontinu menggunakan berbagai media baik toa desa, toa kota, dan media sosial. Ketersediaan peralatan pemeriksaan dan peralatan penyemprotan disinfektan.

Rekomendasi lainnya, yakni ketersediaan alat pelindung diri (APD) lengkap untuk petugas kesehatan. Forum juga merekomendasikan untuk memperkuat rantai komando sampai ke level kecamatan desa, lembaga agama, kesehatan hingga ke bidan desa dan kader posyandu yang dimulai dari posko induk.

Rekomendasi lainnya adalah angggaran, yakni mendorong segera dikeluarkannya anggaran daerah sesuai petunjuk Permendagri Nomor 20 Tahun 2020, juga anggaran desa untuk pencegahan.

Tim khusus penanganan dan pengawasan ODP, PDP dan suspec di kabupaten dan puskesmas, serta menyiapkan skenario khusus penanganan jika Lembata sudah ada pasien positif Covid-19.

Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai mengatakan, untuk lockdown tidak bisa dilakukan sepihak oleh Pemkab Lembata, tetapi harus diusulkan ke Pemerintah Pusat. Karena itu, jika memungkinkan maka akan dibicarakan lebih lanjut untuk mendorong dilakukannya lockdown terbatas di Kabupaten Lembata.

Apalagi, lanjutnya, mulai 1-15 April, penerbangan Trans Nusa dari dan ke Kupang ditutup. Itu berarti, pesawat praktis tidak masuk ke Lembata. Dengan demikian, tinggal melanjutkan penutupan untuk kapal Pelni agar tak masuk. Sedangkan kapal barang masih bisa diperbolehkan masuk karena ABK terbatas sehingga mudah dilakukan pemeriksaan dan jika ada ABK yang terindikasi bisa lebih mudah ditangani.

Ia mengimbau agar anak-anak mahasiswa di luar Lembata tidak dulu pulang walau harga tiket sedang murah. “Di Malaysia juga jangan pulang dulu. Minimalisir yang masuk agar jangan menambah yang masuk,” katanya.

Sementtara Anton Molan Leumara, anggota DPRD Lembata yang juga anggota Forum PRB mengatakan, yang jadi fokus perhatian saat ini adalah mencari jalan untuk lockdown dan siapa yang berwenang tetapkan.

Sebab, tegas Leumara, kalau akses keluar masuk masih terbuka maka sulit membendung keluar masuknya orang dan barang. Maka perlu dilakukan lockdown.

“Kalau lockdown memungkinkan tinggal dipikirkan langkah lanjutannya apa,” katanya.

Iamengaku bersyukur bahwa Forum PRB menginisiasi pertemuan untuk membicarakan persoalan Covid-19. Sebab, lanjutnya, sejauh ini ia belum dengar Forkopimda Lembata duduk membicarakan persoalan Covid-19. Padahal, Forkopimda mendapatkan honor yang sangat besar dari APBD.

“Dan bersyukur PRB sudah memikirkan hal serumit ini. Hari ini sangat baik jika PRB sudah inisiasi, dan harap setelah ini jangan kasih PRB yang pikir terus,” tegas Leumara.

Ia berharap, setelah menggelar diskusi ini maka langkah selanjutnya adalah eksekusi dan pemerintah wajib memfasilitasi forum ini.

Ramsi Langodai, bidan dan anggota Forum PRB mengatakan, tenaga medis juga takut saat melayani OPD karena kekurangan APD.

Ia menambahkan, kondisi riil saat ini banyak tumpahan penumpang ke Lembata melalui kapal kecil dan besar. “Yang mengkhawatirkan itu siapa yang memantau semua protokol kesehatan itu. Sampai tadi malam kita cari penumpang yang turun di Kolontobo tapi bidan masih ada yang tanya masker dan alat pelindung diri,” tegasnya.

Ia mengakui, fasilitas kesehatan (Faskes) masih kurang. Jadi dalam menghadapi Covid-19, mau menolong pasien partus saja pun masih kesulitan mendapatkan masker.

Dia membeberkan adanya warga Lembata dari luar yang datang tidak terdata, tidak diperiksa dan langsung ke rumah. Warga juga tidak bisa mandiri mengikuti protokol kesehatan apalagi karantina dan tinggal di rumah saja.

“Saya minta tempat umum harus disemprot desinfektan. Kita benar-benar tidak siap hadapi Covid-19,” tandas Ramsi.