FPKDK Gandeng RSUD Gelar Pengobatan Gratis

berbagi di:
foto-hal-13

Para difabel berpose bersama pada kegiatan pengobatan gratis yang diselenggarakan oleh FPKDK dan RSUD Lewoleba, Minggu (1/12). Foto; Hiero Bokilia/VN

 
Hiero Bokilia

Forum Peduli Kesejahteraan Difabel dan Keluarga (FPKDK) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan para dokter dari RUSD Lewoleba menggelar pengobatan gratis bagi para difabel dan keluarga di Taman Kota Swaolsa Titen, Minggu (1/12). Pengobatan gratis dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Difabel Internasional pada 3 Desember mendatang.

Ketua Panitia sekaligus Ketua Divisi Medis FPKDK Lembata Yeremias Ronaldi Sunur atau yang akrab disapa Dokter Jimmy kepada VN, Minggu (1/12) usai pengobatan gratis menjelaskan, pengobatan gratis kepada para difabel dan keluarganya itu diselenggarakan dalam rangka Hari Difabel Internasional. Sebelum pengobatan gratis, lanjutnya, terlebih dahulu digelar misa bersama di Gereja Paroki Beneauks Lewoleba.

Pengobatan gratis, terang dr Jimmy, melibatkan tim dokter dari RSUD Lewoleba dan sejumlah petugas medis dibantu relawan FPKDK Lembata.

“Kegivatan pengobatan gratis tidak saja untuk.obati tapi juga screaning sakitnya agar ke depan bisa dirujuk ke fasilitas primer atau sekunder dan apakah cukup ke dokter umum saja atau harus ke dokter spesialis,” jelas dr Jimmy.

Dalam kegiatan itu, terdapat sebanyak 100 orang yang berhasil menjalani pemeriksaan dan pengobatan gratis. Ia merincikan, terdapat 80 orang dewasa dan 20 anak-anak difabel yang menjalani pemeriksaan.

Ia menerangkan, melalui kegiatan seperti itu, untuk menunjukan inkkusifisme di mana mengajarkan kepada para difabel dan masyarakat bahwa semuanya setara tidak saja dalam.aspek.manusiawi, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan, baik aspek sosial, spiritual, psikologis, dan medikal.

“Sesuai dengan prinsip difabel orang dengan kemampuan berbeda tidak dianggap seagai kekurangan fisik atau cacat fisik, tapi berbeda dan tidak diperlakukan berbeda dan berlebihan tapi setara dan sama dengan kita,” tegas dr Jimmy.

Ia berharap pengobatan gratis bisa mendeteksi masyarakat yang sakit namun sulit terjangkau petugas medis. Jika penyakit sudah diketahui maka bisa di rujuk ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, melalui pengobatan gratis juga bisa mendata dengan lebih jelas kekurangan, kemampuan, ada eksistensi bahwa orang difaabel tidak saja tersembunyi dan tidak dijamah tapi diharapkan ada pemerhati, donatur, dan orang yang peduli bisa memberikan sumbangsih dalam bentuk apapun, baik tenaga, pikiran, dan dana yang bermanfaat bagi mereka.

Rosa Blikon, orang tua dari difabel Febi yang ditemui di lokasi pengobatan gratis mengaku sangat senang mendapatkan pengobatan gratis yang tidak saja bagi anaknya tapi juga dia sebagai orangtua.

Ia menceritakan, anaknya yang kini harus pasrah duduk di kursi roda, semula terlahir normal. Namun sejak.mengalami sakit hingga kejang-kejang, kondisinya terus.memburuk hingga kini memasuki usia 22 tahun.

Ia berharap, anaknya bisa sehat dan tidak sakit. Juga agar pengobatan gratis bisa dilakukan rutin ke depannya. Kegiatan hiburan bagi para difabel juga semakin marak dilakukan agar anak-anak tidak merasa minder dan dikucilkan dan bisa bergaul dan mengenal dunia luar.

“Tahun lalu saya tidak ikut, tapi mereka datang jemput Febi dan ikut kegiatan di Bukit Cinta. Tahun ini saya antar Febi datang di sini,” kata Rosa Blikon

Ramsi Langodai, Ketua Sementara FPKDK Kabupaten Lembata menjelaskan, sebelum dilakukan pengobatan gratis terlebih dahulu dilakukan pengenalan abjad dalam bahasa isyarat kepada semua peserta yang hadir. Para dokter dan relawan pun antusias dan ikut belajar bahasa isyarat dan bisa berkomunikasi dengan para pasien saat pengobatan gratis.

“Pembelajaran bahasa isyarat dengan mentor dari SLB Pada,” kata Ramsi.

Rangkaian kegiatan Hari Difabel Internasional, terang Ramsi, akan kembali dilanjutkan pada Senin (2/12) dengan menggelar kegiatan jalan santai. Dalam kegiatan jalan santai ini, konsepnya akan bertukar peran. Para peserta akan bertukar peran sebagai difabel untuk merasakan kehidupan difabel dalam kehidupan harianereka selama ini. (lia/S-1)