G-20 Jadi Momen Promosi Labuan Bajo Sebagai Wisata Premium

berbagi di:
img-20200207-wa0028

Ketua Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Kupang, Sari Bandaso Tandilino

 

 

Kekson Salukh

Konferensi tingkat tinggi (KTT) the group of twenty (G-20) finance ministers and central Bank Governors (kelompok dua puluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral se-dunia) pada 2023 mendatang akan digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Event berskala internasional itu dipastikan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) NTT, membuka peluang kerjasama dengan berbagai investor dan yang paling penting Pemprov NTT harus menjadikannya sebagai momen tepat untuk memperkenalkan dan mempromosikan Labuan Bajo sebagai wisata premium.

Demikian pandangan Ketua Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Kupang, Sari Bandaso Tandilino dan dosen Pariwisata PNK Fahri Reva Adiputra Welly kepada VN, Kamis  (6/2).

Tandilino mengatakan yang perlu disiapkan pemerintah selain pembangunan infrastruktur adalah sumber daya manusia (SDM) masyarakat NTT yang mampu menangani tamu negara tersebut mulai dari bandara sampai ke hotel serta venue konferensi.

Pemerintah harus menyediakam tour guide dengan konsep friendly tour operator dalam melayani tamu serta membuat itenerary (rancangan perjalanan wisata) yang bisa meningkatkan lenght of stay.

“Sarana prasarana di DTW (daerah tujuan wisata) harus mudah di akses termasuk kapasitas internet. Media lokal harus kompak menyajikan berita-berita positif tentang NTT agar tamu-tamu negara tersebut merasa berada di negara sendiri,” tandas Tandilino.

Menurutnya, dampak positif dari pertemuan KTT G-20 di Labuan Bajo yakni PAD dan pendapatan masyarakat bisa meningkay.

“Pemda harus memfasilitasi para UMKM agar produk-produk mereka dapat digunakan dalam event tersebut, contohnya syal tenun dapat dijadikan sebagai tali name tag,” tandasnya.

Sementara dosen Pariwisata PNK, Fahri Reva Adiputra Welly mengatakan, dampak positif dari KTT G-20 bagi pemprov NTT yakni Labuan Bajo yang sudah terkenal sebagai salah satu destinasi pariwisata berkelas, akan semakin dikenal.

“Ini sangat bagus ya, selain jadi tantangan juga jadi peluang dengan menjadi tuan rumah event internasional. Dampak positif bagi pemprov pastinya nama Labuan Bajo yang sudah terkenal sebagai salah satu destinasi pariwisata berkelas, akan semakin dikenal lagi selain karena komodo dan keindahan alamnya,”  tandasnya.

Selain itu, kata Fahry, KTT G-20 bisa menjadi ajang promosi bahwa Labuan Bajo siap untuk dijadikan venue penyelanggaraan event-event berskala nasional maupun internasional, meningkatkan PAD, membuka peluang kerjasama dengan berbagai investor luar negeri, bahkan menjadi momentum tepat untuk memperkenalkan Labuan Bajo sebagai wisata premium.

Persiapan yang dilakukan pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi, jelas Fahri, harus direncanakan dengan baik seperti fasilitas umum, kendaraan/armada sesuai standar yang ditetapkan. Kebutuhan kamar yang sesuai standar untuk para peserta, serta SDM yang akan bertugas langsung maupun masyarakat di Labuan Bajo agar mampu menyukseskan event yang bakal dihadiri 15 ribu lebih pengunjung dan peserta.

“Perlu melibatkan SDM lokal yang ada di NTT sehingga ada dampak ekonomis bagi masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan SDM lokal dari sekarang. Waktu masih tiga tahun ini bagi saya cukup untuk mempersiapkan semuanya secara matang.” ungkap CEO Aisha Tour Planner ini. (bev/ol)