Galangan Kapal Sulamu Serap 4.000 Tenaga Kerja

berbagi di:
o

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ketika melakukan peletakan batu pertama pembangunan galangan kapal dan Industri Maritim Terpadu di Desa Pitai, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Senin (13/1).

 

Kekson Salukh

PT Industri Kapal Nusantara kini membangunan galangan kapal dan Industri Maritim Terpadu di Desa Pitai, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Industri galangan Kapal itu akan menyerap 4.000 tenaga kerja.

Pembangunan galangan kapal dan Industry Maritim Terpadu itu ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) di Desa Pitai, Senin (13/1).

Dirut PT Industri Kapal Nusantara, Askan Naim  mengatakan pembangunan galangan kapal dan Industry Maritim Terpadu itu memberikan kontribusi nyata mendukung program NTT Bangkit menuju NTT Sejahtera. Industri itu memiliki dampak yang sangat positif, termasuk menyerap 4.000 tenaga kerja lokal, dan diperkirakan akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat secara signifikan.

Askan menjelaskan, pihaknya telah membeli 25 hektare lahan dari masyarakat Desa Pitai untuk investasi industri Kapal Nusantara. Sebab pihaknya tidak hanya fokus pada galangan kapal, tetapi juga untuk industri perikanan.

“Kami telah miliki kurang lebih 25 hektare, yang dibeli dari masyarakat Desa Pitai kemudian telah dikonversi dari sertifikat hak milik menjadi sertifikat HGB atas nama Industri Kapal Nusantara. Galangan kapal ini bukan industri satu atau dua tahun tetapi 50 tahun sehingga kami harus membeli lahan supaya nanti tidak jadi masalah di kemudian hari. Industri ini juga bakal menyerap 4.000 tenaga kerja lokal,” beber Askan.

Menurutnya, bukan hanya galangan kapal yang dibangun tetapi ada juga industri perikanan yang ke depan akan menjadi pusat pembangunan kapal-kapal perikanan maupun industri pengolahan hasil perikanan yang menyerap 4.000 sampai 5.000 tenaga kerja lokal.

Secara keseluruhan Indonesia Timur masih kekurangan industri kemaritiman, khususnya di bidang industri galangan kapal. PT Industri Kapal Nusantara melihat wilayah kemaritiman di NTT masih sangat luas sehingga ia memutuskan masuk untuk berinvestasi.

“Karena itu kami sangat mengharapkan dukungan Bapak Gubernur, Bapak Bupati Kupang dan seluruh masyarakat NTT. Karena, secara keseluruhan Indonesia Timur masih kekurangan industri kemaritiman, khususnya di bidang industri galangan kapal, sehingga kami datang untuk berinvestasi,” ungkap Askan.

Askan menargetkan dalam waktu enam bulan ke depan galangan kapal yang dibangunnya itu sudah mulai beroperasi. Sebab, pihaknya akan mulai membangun infrastruktur dasar terlebih dahulu.

“Jadi yang akan dibangun lebih dahulu itu kantor utama, gudang utama, bengkel utama, alat-alat untuk menarik kapal naik ke darat sehingga bulan Juli atau Agustus nanti kita sudah bisa layani doking kapal perdana. Kemudian satu berita gembira bahwa Pak Gubernur akan mengorder kapal beliau di industry ini,” ujar Askan disambut tepuk tangan masyarakat dan undangan yang hadir.

Askan menambahkan, laut Pulau Timor memeliki potensi ikan yang luar biasa sehingga perlu ada pengembangan industri kapal untuk membantu memberdayakan ekonomi masyarakat menjadi nelayan profesional dan memeliki pasar yang jelas.

 

Permudah Urusan Izin
Gubernur VBL dalam sambutannya meminta masyarakat dan pemerintah menjaga setiap investor yang masuk berinvestasi. Tidak boleh memeras investor yang baru mulai berinvestasi di NTT.

“Kalau orang bawa uang ke NTT kita harus jaga baik-baik. Saya perintahkan seluruh jajaran Pemerintah Provinsi NTT untuk mempermudah segala urusan terkait dengan investasi di NTT. Pelayanan publik di daerah ini harus membuat orang merasa nyaman,” tegas VBL.

Menurutnya, NTT sangat kaya dengan sumber daya kelautan yang harus dikelola dengan baik. Ia bersyukur dengan masuknya investasi galangan kapal tersebut. Ia meminta agar investasi ini harus didukung dan dijaga agar menyukseskan pembangunan di NTT.

“Tidak boleh peras pengusaha yang baru masuk. Tetapi harus dukung. Gubernur dan Bupati harus berikan izin yang cepat. Izin diantar kepada pengusaha dan bukan pengusaha ambil di kantor. Pelayanan publik itu harus cepat agar investor di NTT semangat dalam bekerja. Pemerintah desa harus kawal proses pembangunan gelangan kapal ini sampai tuntas,” tegas Gubernur VBL.

Gubernur menegaskan, tenaga kerja harus diambil semuanya dari desa. Selain itu, libatkan pemuda dan pemudi di NTT. Minimal, dari 4.000 tenaga kerja lokal yang ditargetkan perusahaan, 1.500 tenaga kerja boleh dari luar NTT tetapi 2.500 tenaga kerja harus berasal dari dalam NTT.

Lanjut Gubernur VBL, Bumdes harus menyiapkan dan membangun restoran yang menyediakan jasa makanan bagi tenaga kerja PT Industri Kapal Nusantara.

“Pembangunan gelangan kapal harus menimbulkan multi player effect bagi masyarakat. Harus perhatikan kebersihan lingkungan. Managemen kebersihan harus ditata dengan baik agar tidak merusak alam.

Gubernur NTT dan Bupati Kupang menjamin investasi PT Industri Kapal Nusantara. Kami juga akan berperan dalam pemasaran,” ungkapnya.

Ia juga meminta BUMDes setempat dapat membuat rumah makan agar para pekerja PT Industri Kapal Nusantara tidak susah mencari makan. Karena itu, masyarakat Desa Pitai diminta mulai menanam sayur, tomat dan sebagainya agar menu makanan yang disiapkan nanti beragam.

VBL juga meminta Bupati Kupang, Korinus Masneno untuk melaporkan kepada dirinya setiap bulan terkait perkembangan pembangunan galangan kapal itu.

“Pak Bupati report ke saya setiap bulan agar saya dapat mengetahui progress dari pembangunan ini. Jangan sampai hari ini kita ground breaking lalu kita hilang,” ucapnya.

Pantauan VN, acara peletakan batu pertama pembangunan galangan kapal dan Industry Maritim Terpadu dihadiri Wakapolda NTT, Jhoni Asadoma, Danrem 161/Wira Sakti Kupang, Syahful Rahman, Bupati Kupang, Corinus Masneno dan sejumlah pimpinan OPD lingkup Pemprov NTT dan Kabupaten Kupang serta masyarakat setempat. (mg-10/S-1)