Garam NTT jadi Fokus Pemerintah Pusat

berbagi di:
Ilustrasi Petani Garam

Alfred Otu

PEMERINTAH Pusat serius mengoptimalkan potensi garam di NTT khususnya di Desa Nunkurus dan Merdeka, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang
untuk memenuhi kebutuhan garam nasional demi mengurangi impor.

“Saya mendukung penuh semua aktivitas yang berkaitan dengan produksi garam di sini. Saya berharap dalam kurun waktu setahun ini, kita bekerja sama dalam meningkatkan produksi garam ini. Karena kebutuhan nasional kita sekitar 4,4 juta ton per tahun. Saya yakin NTT mampu mendukung pemenuhan kebutuhan garam nasional dalam rangka menurunkan angka impor garam,” ujar Menteri Perdagangan (Mendag) RI Agus Suparmanto saat memantau lahan garam di Nunkurus dan Merdeka, Jumat (24/7) kemarin.

Mendag memberikan apresiasi terhadap kerja keras Gubernur NTT dalam mengembangkan garam di NTT. “Sekali lagi saya tegaskan, potensi garam NTT dapat mendukung kami dalam memenuhi kebutuhan industri maupun kebutuhan konsumsi dalam negeri,” tegasnya.

Ia juga mengajak pihak perbankan terlibat langsung dalam proyek ini. “Tentunya mesti adanya dukungan nyata terhadap pengembangan garam di NTT. Seperti stimulus bagi petani, memfasilitasi para pelaku investasi, mengkoordinasikan KUR bagi para petani garam dan dibentuk resi gudang sehingga para petani bisa menyimpan dan mendapat akses pendanaan untuk menciptakan dunia usaha sejuk yang kami prioritaskan di tempat ini,” bebernya.

Di akhir sambutannya, Mendag juga memberikan dukungan penuh kepada pihak yang berwenang untuk mengusut tuntas kartel garam dari luar (negeri).

“Pesebaran garam Himalaya di daerah yang tidak memiliki izin edar, kami lakukan pemusnahan untuk melindungi para petani dan produksi garam nasional. Dukungan terhadap hal ini bukan sekadar dari pemerintah (pusat) saja tapi perlu keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat,” pungkas Agus.

Disaksikan VN, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat tiba bersama Mendag bersama rombongan didampingi Wakil Bupati Kupang Jerry Manafe meninjau potensi garam di Nunkurus.

Dalam kunjungannya itu, Gubernur menunjukkan lahan garam yang siap panen. Keduanya bersama rombongan bahkan mengelilingi seluruh lahan garam di dua lokasi, yakni di Nunkurus dan di Merdeka.

Kunjungan tersebut guna memastikan seluruh lahan garapan yang telah siap serta potensi di dua lokasi itu, yakni Nunkurus seluas 600 hektare (ha) dan di Merdeka seluas 300 ha.

Ketua Asosiasi Garam NTT Daniel Cherlin mengatakan, di dua lahan garam, yakni Nunkurus dan Merdeka, siap dipanen pada Agustus mendatang.
Dia memperkirakan garam yang dipanen di dua lokasi itu bisa mencapai 90 ribu ton Ia juga optimistis, produksi garam Nunkurus dan Merdeka bisa mencapai 1 juta lebih ton.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat mendampingi Presiden Joko Widodo memghadiri panen produksi perdana Garam Premium di tempat yang sama pada Selasa (21/8/2019) lalu, menegaskan bahwa Indonesia memerlukan investasi yang cukup besar dalam upaya peningkatan kualitas garam lokal.

Airlangga optimistis, NTT berpotensi untuk menjadi produsen garam industri nasional dan dapat menjadi substitusi impor. “Dengan mengganti garam industri impor, pemerintah akan menghemat devisa,” jelasnya.

Saat itu, Menperin menegaskan bahwa kualitas garamnya cukup baik untuk industri. Sementara lahan yang baru tergarap seluas 10 hektare (ha) untuk produksi garam, dari potensi lahan yang tersedia mencapai 600 ha.

Sedangkan, khusus di Teluk Kupang, tersedia lahan garam seluas 7.700 ha. Sisanya tersebar di berbagai wilayah NTT, antara lain di Kabupaten TTU, Malaka, Sabu Raijua, Rote Ndao dan Nagekeo.

Secara keseluruhan, potensi lahan tambang garam di NTT mencapai 60 ribu ha dan paling sedikit 21 ribu ha dapat direalisasikan dalam waktu 2-3 tahun ke depan. Dari lahan seluas 21 ribu ha tersebut, produksi garam akan mencapai 2,6 juta ton per tahun. (mg-07/C-1/ol)