Geliat Ekonomi Baru di Tanjung Watukrus

berbagi di:
foto-hal-01-cover-sikka-280321

Pondok Santai Tanjung Watukrus, di Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Sabtu (27/3) siang. Foto:Yunus Atabara

 

 

 

LERENG bercadas dan curam Tanjung Watukrus atau oleh masyarakat lebih dikenal dengan nama Lian Goa di Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, kini berubah menjadi destinasi wisata dengan geliat ekonomi baru yang menjanjikan.

Vinsesius Ferer (42) berhasil mengubah cadas yang curam berbatu itu menjadi destinasi wisata baru. Membangun pondok untuk bersantai dengan konsep kafe dan homestay di atas batu karang berbentuk gua di pantai Selatan Flores itu.

Posisinya strategis, menyajikan landskap pemandangan pantai yang menakjubkan. Sesuai namanya “Watukrus” (batu salip), di salah satu puncak cadas tertancap salip sebagai ikon destinasi wisata baru itu.

Ferer mengisahkan, setelah kembali dari perantauan, 5 April 2015 lalu, ia mulai merintis dengan menyusun batu karang menjadi titian menuju Tanjung Watukrus yang berjarak kurang lebih 100 meter dari jalan raya.

“Waktu saya pulang dari perantauan, bingung mau kerja apa. Waktu saya mulai awal, orang mungkin pikir saya sudah gila,” kisah Ferer.

Dengan peralatan seadanya, ia mulai menata tebing cadas yang curam itu. Ferer mendesain tebing cadas itu menjadi tiga trap. Pertama didesain sebagai tempat foto-foto dilengkapi taman dan kolam ikan laut menggunakan air laut yang disedot menggunakan mesin.

Trap kedua membangun taman dan membangun 3 lopo (rumah payung) dan trap ketiga membangun kafe dan homestay. Untuk mencapai Pondok Santai Tanjung Watukrus, harus melewati jalan setapak sepanjang 100 meter. Dimana titian itu awalnya di atas batu karang yang kemudian dibangun secara permanen dari cor beton.

 

Bayar Rp10 Ribu

foto-hal-01-cover-sikka-warcrut-280321

Untuk menikmati keindahan Pondok Tanjung Watukrus setiap pengunjung membayar hanya Rp10.000 di pintu masuk.
Selain menikmati keindahan alam dan deburan ombak pantai selatan yang luas sejauh mata memandang, pengunjung bisa menikmati aneka minuman mulai dari es kelapa muda hingga kopi dan teh panas. Selain itu tersedia pisang goreng serta beberapa menu makanan.

Tempat itu dilengkapi taman serta tempat berswafoto. Sebanyak tiga lopo yang dilengkapi kursi kayu. Kafe dan dua homestay dengan tarif murah meriah dan terjangkau.

Ferer mengaku bangga karena di masa pandemi Covid-19, usahanya menjadi tempat pertumbuhan ekonomi baru bagi dirinya sebagai pemilik dan juga warga sekitar yang mendapat dampak langsung dari kedatangan pengunjung.

Tarif murah meriah, Rp10.000 untuk masuk di wilayah itu, membuat pengunjung membludak. Terutama pada hari libur ataupun Sabtu dan Minggu setiap pekan.

“Kalau hari libur atau akhir pekan bisa mencapai 150 sampai 200 orang pengunjung,” ujarnya.

Kendati demikian, dalam mendesain Pondok Santai miliknya sejak 6 tahun silam, belum semuanya selesai. Terkendala modal, karena selama ini usahanya sulit mendapatkan akses dana dari pemerintah.

“Uhe die, dang hading” (Selamat datang, kami menunggu). (Yunus Atabara/R-2/yan/ol)