Gerakan Literasi Sekolah Tanpa Teladan Guru

berbagi di:
foto-hal-04-opini-210221-penulis-satu

 

Oleh: MN Aba Nuen
Guru SMAN Kualin TTS,
Anggota Asosiasi Guru Penulis NTT

 

 
HASIL survei Programme for International Student Assesment (PISA), tentang kemampuan membaca atau literasi siswa Indonesia selama 18 tahun menunjukan hasil menyedihkan.

Hasil survei PISA tahun 2000, skor kompetensi membaca siswa Indonesia berada pada angka 371. Pada survei tahun 2018 atau 18 tahun kemudian, angkanya ternyata sama persis. Kemampuan membaca siswa Indonesia mendapat skor 371, berada di posisi 74. Kemampuan matematika skornya 379 berada di posisi 73. Kemampuan sains dengan skor 396 berda di posisi 71.

Bagaimana bisa, kemampuan membaca anak Indonesia tanpa progres selama hampir 20 tahun? Bagaimana peran guru dan sekolah? Bukankah 20% anggaran pendidikan, telah dialokasikan di APBN selama lebih dari satu dekade, sejak 2009-2020?

Ini adalah daftar pertanyaan besar, yang harus dijawab semua pihak yang terlibat dalam tata kelola pendidikan.

Meminjam opini Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim, kondisi tersebut menunjukan ada kekacauan dalam pengelolaan minat baca anak Indonesia.
Salah satu pemicunya adalah tenaga pengajar yang tak mampu menularkan minat baca kepada siswa.

“Pertama yang saya salahkan adalah guru. Bagaimana siswa kita mau membaca, kalau gurunya malas membaca,” kata Satriwan seperti dirilis www.medcom.id, Selasa 7 April 2020.

Sekjen FSGI mungkin saja benar, sayangnya beliau melempar kesalahan kepada guru tanpa data dan riset. Mestinya alibi itu didukung dengan data, berapa banyak guru Indonesia yang punya minat baca rendah dan gagal memberi dampak kepada siswa. Tanpa data, pernyataannya tak lebih dari tindakan blaming tak berdasar.

Di sisi lain, pernyataan Satriwan juga perlu disikapi positif. Pendapat itu membuka jalan otokritik bagi guru-guru dengan pertanyaan penting, sejauh mana peran guru dalam menumbuhkan minat baca siswa? Pertanyaan reflektif ini akan menyingkap banyak tabir, tentang giat literasi di kalangan guru.

 
Guru dan Gerakan Literasi Sekolah

 

Dengan sekolah sebagai episentrum, guru berperan besar dalam geliat literasi dengan fondasi utama program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kita tahu, beragam terobosan sekolah untuk merangsang minat baca siswa. Perpustakaan sekolah, pohon literasi, sudut baca, mading, lopo baca, ini adalah beberapa contohnya.

Apakah cukup? Tidak. Intervensi itu baru sebatas menyediakan akses anak pada bahan bacaan, belum menyentuh substansi literasi, yakni aktifitas membaca, menulis, menalar, menganalisis, menginterpretasikan dan gerak kognisi lainnya.

Akses bacaan yang tersedia di sekolah perlu stimulus, dan itu adalah teladan guru. Keterlibatan guru sebagai model dengan kebiasan membaca di sekolah, dapat menumbuhkan minat membaca siswa. Sebagai tokoh utama ekosistem pendidikan, budaya membaca wajib dimiliki guru.

Kegemaran membaca bisa menghasilkan keterampilan turunan yaitu menulis. Membaca dan menulis adalah paket literasi dasar, yang menjadi kebutuhan profesi guru, tidak semata tentang keterampilan. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya memberi garansi benefit angka kredit penunjang karir guru.

Permen itu memuat ragam publikasi ilmiah yang bisa ditulis guru. Modul pelajaran, buku pelajaran, buku pedoman guru, karya ilmiah dan makalah, adalah beberapa contohnya. Guru tinggal memilih, jenis karya mana yang hendak ditulis. Semua hasil karya tulis guru, diarsipkan di perpustakaan sekolah dan diakses siswa.

Tulisan guru pada akhirnya akan mengisi ruang baca siswa, sekaligus berfaedah untuk karir dan profesi guru. Perpaduan literasi baca tulis, jika guru memiliki keduanya dan menular kepada siswa, siklus seperti ini yang perlu dibangun, dalam bingkai gerakan literasi sekolah.

Guru yang gemar membaca, akan menginvestasikan sebagian penghasilan untuk membeli buku. Membeli buku adalah berinvestasi untuk otak. Membaca adalah membiarkan otak menerima asupan vitamin ilmu pengetahuan dan informasi. Membaca dan menulis adalah proses kreatif, yang memaksimalkan kerja kognisi.

Celakanya, jika ada guru yang dalam setahun tidak pernah membeli dan membaca buku, selain buku teks pelajaran yang diampuhnya. Jika demikian, bagaimana mengharapkan siswa rajin membaca, sementara gurunya tidak? Ini adalah pertanyaan kontemplasi, yang wajib ada dalam sanubari setiap pendidik sebagai katalisator perubahan.

Sebagai fasilitator pembelajaran, guru dapat mengintegrasikan pengalaman membaca dan menulis ke dalam pendekatan pembelajaran. Pembelajaran dialogis dan partisipatif adalah contohnya, yang mana siswa punya kesempatan mengembangkan inisiatif dan mengolah informasi berdasarkan perspektifnya sendiri.

Sebagai contoh, materi teks berita pada pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, guru bisa menugaskan siswa membaca beberapa headline dari media berbeda, kemudian siswa menuliskan pokok berita dari setiap headlinenya, atau membuat parafrase pokok berita. Pola seperti ini akan melatih siswa untuk mencari informasi, mengolahnya dan mempersepsikan sesuai sudut pandangnya. Ini adalah sebuah pendekatan memberdayakan kognisi siswa, sangat khas literasi.

Budaya literasi di sekolah, juga bisa ditumbuhkan melalui kegiatan stimulus bidang ekstrakurikuler, misalnya melalui kelompok menulis, diskusi, debat, bedah buku dan kreasi sastra.
Di sini, tak hanya baca tulis, tetapi ruang lingkup literasi jadi lebih luas, yang mencakup kemampuan dan keterampilan siswa dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah.

Guru berperan sebagai fasilitator. Ragam kegiatan ekstrakurikuler akan berguna mengisi kekosongan aspek soft skill siswa, yang tidak mereka peroleh dari proses belajar reguler. Kepemimpinan, beretorika, berkarya seni, berdebat, ini adalah kecakapan penting yang bisa diintervensi melalui kegiatan ekstra di sekolah. Inilah harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir dan olah raga yang dibutuhkan dalam membekali siswa dengan pengetahuan dan pembentukan karakter. Pada titik ini, manajemen sekolah (kepala sekolah) yang pro literasi adalah faktor kuncinya.
Tanpa itu, budaya literasi di sekolah sulit tercipta.

Inilah fase gerakan literasi sekolah, yang mana guru bertindak sebagai teladan, contoh bagi siswa. Gerakan literasi sekolah tanpa teladan guru, secara tak langsung itu menjustifikasi hipotesis sekjen FSGI, bahwa tenaga pengajar tak mampu menularkan minat baca kepada siswa.

Guru memberi teladan, siswa mencontohi, maka budaya literasi di sekolah dibangun di atas fondasi partisipasi bersama warga sekolah. Budaya literasi di sekolah hanya akan terwujud, jika didukung kolaborasi yang baik antara manajemen sekolah, guru dan siswa.