Gubernur Antar Jenazah Edu ke Liang Lahat, Pemprov Biayai Kuliah Anak-anak Edu

berbagi di:
foto-hal-01-cover-171020-pemakaman-edu-01-master

 

Ribuan warga mengantar jenazah almarhum Eduardus “Edu” Nabunome ke tempat peristirahan terakhir di Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, Kabupaten TTS pada Jumat (16/10) petang. Foto:Nahor Fatbanu/vn.

 

 
Megi Fobia

 
GUBERNUR NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) didampingi rombongan dari Pemprov NTT, mengantar jenazah mantan pelari nasional asal NTT, Eduardus “Edu” Nabunome hingga ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Almarhum Edu dikebumikan di Desa Kaeneno, Kecamatan Fautmolo, Kabupaten TTS pada Jumat (16/10) petang. Edu meninggal dunia pada Senin (12/10) pukul 21.20 WIB di RS Medistra Jakarta.
Disaksikan VN, Gubernur VBL didampingi Asisten, staf khusus, Kadispora Hildegardis Bria Seran, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, Ketua Pengprov PASI NTT Esthon Foenay, Ketua PASI TTS George Dominggus Mella, serta Bupati TTS Epy Tahun dan jajaran, tiba di rumah duka sekitar pukul 14.50 Wita. Rombongan disambut tutur Natoni dan pengalungan selempang.

Gubernur VBL langsung masuk ke rumah duka dan memberi penghormatan kepada Edu. Saat tiba di depan peti jenazah, Gubernur menundukkan kepada sembari membungkukan badan selama sekitar 10 detik. Kemudian Gubernur dan rombongan bergantian menyalami istri almarhum Marcelina Ina Piran dan keenam anak, serta Alex Nabunome (kakak kandung Eduardus), dan keluarga.

Usai ibadah pemakaman yang dipimpin Pdt Henderika Pello dan pembacaan riwayat hidup almarhum, peti jenazah yang sudah dibungkus bendera merah putih, dipikul beberapa warga menuju liang lahat.

Suasana bertambah haru, ketika peti jenazah akan ditutup tanah. Istri dan keenam anak Edu meratap dan membuat ratusan pelayat yang hadir larut dalam isak tangis. Gubernur, Ketua DPRD NTT, Ketua PASI NTT, tampak ikut larut.

 
Dibiayai Pemprov

 

Sementara itu, dalam sambutannya Gubernur memastikan bahwa anak-anak alm Edu Nabunome yang belum menyelesaikan pendidikannya akan mendapat dibiayai Pemprov NTT hingga perguruan tinggi.
Dikatakannya, terlalu banyak prestasi yang diraih almarhum yang mengharumkan nama NTT. Sejauh ini belum ada atlet NTT yang mampu menyamai gemilang prestasi yang diukir almarhum. “Tidak ada orang NTT yang sama dengan Edu Nabunome sehingga saya harus hadiri pemakamannya. Banyak hal yang diraih,” kata VBL.

Ia berharap akan ada pengganti Edu Nabunome. Tentu butuh waktu dan kedisiplinan dalam berlatih. NTT kehilangan seorang tokoh olahraga yang dikenal di dunia atletik internasional. Pemerintah Provinsi NTT berterima kasih atas prestasi yang diraih almarhum sehingga bukan saja TTS, tetapi NTT dikenal karena prestasi yang diraihnya.

“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Provinsi NTT menyampaikan terimakasih atas prestasi yang diraih,” ujarnya.

Kakak almarhum, Minggus Liem mengatakan, keluarga merasa bahwa apa yang dilakukan Pemprov NTT sangat luar biasa, yakni memfasilitasi pemulangan jenazah dari Jakarta hingga kampung halaman di TTS.

Edu, yang punya nama lengkap Anderias Hiller Eduardus Nabunome tersebut, meninggal dunia di usia 52 tahun pada Senin (12/10) pukul 21.20 WIB di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

Jenazah sang raja lari jarak jauh ASEAN itu, diterbangkan dari Jakarta ke Kupang pada Kamis (15/10) dinihari dan tiba di Bandara El Tari pukul 06.30 Wita. Selanjutnya jenazah Edu dibawa ke Kampung halamannya di Desa Koeneno, hari itu juga. (yan/ol/ol)