Gubernur Apresiasi Pemkab Rote dalam Mengawal Pembangunan Mulut Seribu

berbagi di:
img-20200615-wa0028

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat didampingi Bupati Rote Ndao Paulina Haning-Bullu dan Wakil Bupati Stefanus M Saek menekan tombol sirene sebagai tanda peresmian Cottage Pia Heu Victory dan Resto Mama Hoko, di kawasan wisata Mulut Seribu, di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Senin (15/6). Foto: Frangky/VN

 

 

 

Frangky Johannis

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) mengapresiasi Pemkab Rote Ndao yang siap menindaklanjuti kebijakan Pemprov NTT terkait pengembangan destinasi unggulan di kawasan wisata Mulut Seribu.

Menurut Gubernur VBL, dari tujuh destinasi inggulan yang dibangun Pemprov NTT tahun 2019, Mulut Seribu merupakan yang pertama kali diresmikan. Enam lainnya belum bisa diresmikan karena belum siap. Hal ini menunjukan, bupatinya terlibat langsung mengawal apa yang diberikan provinsi.

“Yang paling siap itu Rote Ndao. Berarti kalian (Dinas Parekraf NTT) kalau tidak ada bupati, maka kalian tidak siap. ini harus dijadikan pelajaran agar kita harus mampu membangun pariwisata NTT,” kritik Gubernur VBL.

Menurutnya, apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao di Mulut Seribu sangat luar biasa. Pembangunan fasilitas ini memang uang dari Pemprov, tetapi jika bupati tidak terlibat, mungkin tidak jadi seperti yang diharapkan.

VBL mengatakan mindset Pemkab Rote Ndao sudah berada pada jalur yang benar dalam membangun sektor pariwisata dengan baik. Mulut Seribu ini akan menjadi Candradimuka untuk membangun community based tourism.

“Jangan sekali-kali dengan adanya ini mindset Pemkab hanya ke Pendapatan Asli Daerah (PAD), mindsetnya harus bagaimana masyarakat tumbuh ekonominya,” ujar Gubernur VBL.

Ke depan, kata VBL, yang dimimpikannya adalah pariwisata Rote bertumbuh bukan karena kelompok elite yang luar biasa, tetapi community based yang luar biasa.

Untuk itu, kata Gubernur VBL, Pemkab harus mempersiapkan masyarakat lokal untuk menjadi chef, house keeping, front officcer, dan lain-lain, agar bisa mengelola dengan baik dan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Rote.
Selain itu, kata VBL, Pemkab juga harus menjamin suplay change (rantai pasok) tidak boleh datang dari luar, infrastruktus jalan harus diperhatikan untuk memudahkan akses, Puskesmas di Landu Leko sini juga lengkap dokter dan peralatan medisnya, minimal di bawah satu tingkat dari RSUD Ba’a.

“Saya dapat pastikan pertumbuhan ekonomi Rote Ndao akan berkembang pesat, jika semua yang saya sampaikan ini tersedia dan terjaga kesinambungannya dalam mendukung pariwisata,” ujar VBL.

Terpisah Kadis Parekraf NTT Wayan Dermawa menjelaskan, Mulut Seribu merupakan salah satu destinasi wisata baru yang dipromosikan oleh Gubernur NTT, yang didukung oleh Pemkab Rote Ndao, ke depan akan menjadi destinasi yang prospektif.

Menariknya, kata dia, sebagai destinasi bahari dengan pulau-pulau kecil sekitar 21 buah, mana kala dibangun akses langsung dari Kupang langsung ke Mulut Seribu dengan paket wisata kapal, mungkin akan mengatasi kendala masih rendahnya daya dukung aksesibilitas ke objek wisata ini.

Ia mengatakan, untuk menggairahkan desatinasi ini, salah satu yang didorong oleh Pemprov adalah mengembakan even festival, misalnya macing, perahu hias, dan event-event budaya yang ditumbuhkan dari desa-desa yang ada di sekitar Desa Daiama.

Ia mengakui setelah dibangun cottage dan resto, sudah ada tanda perkembangan yang luar biasa, contohnya masyarakat sudah mulai membangun warung yang cukup representatif di depan Mulut Seribu.
“Dahulu waktu peletakkan batu pertama warung-warung ini belum ada. Ini suatu pertanda bahwa masyarakat juga menangkap potensi ini. Juga sudah dibangun puluhan home stay milik warga, sebagai bagian dari bagaimana kesiapan masyarakat menyambut wisatawan,” kata dia.

Menurutnya, potensi Mulut Seribu ini bisa menjadi alternatif untuk wisatawan yang senang tantangan wisata bahari dan endemik tanaman yang umurnya ratusan tahun. (bev/ol)